LIBANON – Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, mengeluarkan peringatan keras terhadap rentetan aksi militer Israel yang dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata. Qassem menegaskan bahwa “kesabaran pihak perlawanan ada batasnya” menghadapi provokasi yang terus berlanjut.
Dalam sebuah pernyataan resmi yang disiarkan pada hari Kamis, Sheikh Qassem menyoroti kegagalan pihak internasional dalam menertibkan tindakan sepihak militer Israel. Ia menilai Israel terus mengeksploitasi situasi dengan melakukan serangan udara dan pergerakan pasukan di wilayah kedaulatan Lebanon pasca-kesepakatan damai.
Poin Penting Pernyataan Sheikh Naim Qassem:
-
Peringatan Terakhir: Pihak perlawanan (Hizbullah) menyatakan tidak akan selamanya menahan diri jika pelanggaran terus terjadi. Qassem menegaskan bahwa mereka memiliki hak penuh untuk merespons setiap agresi guna melindungi warga sipil dan kedaulatan negara.
-
Tanggung Jawab Mediator: Beliau mendesak pemerintah Lebanon dan para mediator internasional, terutama Amerika Serikat dan Prancis, untuk segera mengintervensi. Menurutnya, kegagalan mediator dalam menekan Israel dapat meruntuhkan stabilitas yang baru saja diupayakan.
-
Kesiapan Militer: Meskipun berkomitmen pada stabilitas, Qassem memastikan bahwa unit-unit tempur mereka tetap dalam posisi siaga tinggi dan siap bertindak jika situasi di lapangan memburuk.
Laporan dari lapangan menunjukkan adanya peningkatan frekuensi serangan drone dan artileri Israel di beberapa titik perbatasan dalam beberapa hari terakhir. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa kesepakatan gencatan senjata yang masih seumur jagung tersebut berada di ambang kehancuran.
Hingga berita ini diturunkan, pihak militer Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait ancaman tersebut. Namun, para analis politik memperingatkan bahwa tanpa langkah diplomasi yang cepat, konfrontasi terbuka dapat pecah kembali di sepanjang garis perbatasan Lebanon-Israel.





