JAKARTA – Situasi di Timur Tengah dilaporkan memanas setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. Aksi militer ini terjadi di tengah kebuntuan negosiasi nuklir yang telah berlangsung lama. Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana, memberikan analisis mendalam mengenai pemicu, strategi, dan dampak global dari konflik terbuka ini.
Pemicu: Kebuntuan Negosiasi Nuklir
Menurut Prof. Hikmahanto, serangan ini dipicu oleh ketidaksabaran Presiden AS, Donald Trump, terhadap sikap Iran dalam perundingan nuklir. Iran dianggap sengaja mengulur waktu untuk terus mengembangkan uranium, sementara tuntutan Iran agar AS mencabut embargo ekonomi sepenuhnya belum dipenuhi.
“Dugaan saya, Presiden Trump sudah tidak sabar karena Iran dianggap mengulur-ulur waktu untuk menyepakati terkait kesepakatan nuklir. Di sisi lain, PM Netanyahu terus mendorong AS untuk melupakan negosiasi dan langsung melakukan tindakan militer,” ujar Hikmahanto dalam wawancara bersama Kompas TV.
Strategi “Preemptive Strike” dan Aliansi Keamanan
Serangan ini diawali oleh Israel dengan dalih preemptive strike atau serangan pencegahan. Israel mengeklaim memiliki bukti bahwa Iran tengah mempersiapkan senjata nuklir untuk menyerang mereka.
Keterlibatan langsung Amerika Serikat terjadi setelah Iran melakukan serangan balasan. Prof. Hikmahanto menjelaskan bahwa AS terikat perjanjian keamanan dengan Israel yang serupa dengan Pasal 5 NATO, di mana serangan terhadap Israel dianggap sebagai serangan terhadap kedaulatan Amerika Serikat.
Sebagai respons, Iran tidak hanya menargetkan wilayah Israel, tetapi juga mengincar pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara Arab. Strategi ini diambil Iran untuk melumpuhkan basis logistik dan operasional pesawat tempur AS agar tidak bisa meluncurkan serangan udara yang lebih masif.
Target Akhir: Pergantian Rezim?
Lebih jauh, analisis ini mengungkap bahwa target serangan bukan sekadar fasilitas nuklir, melainkan potensi penggantian kepemimpinan di Iran. Nama Reza Pahlavi, putra mendiang Syah Iran, mencuat sebagai sosok yang diprediksi akan didukung jika terjadi perubahan rezim.
“Israel dan AS memiliki kepentingan agar kepemimpinan di Iran berganti. Reza Pahlavi sendiri telah menyatakan jika ia memimpin, ia akan memperbaiki hubungan dengan AS-Israel, menghentikan program nuklir, dan memutus bantuan kepada proksi seperti Hamas, Hizbullah, dan Houthi,” tambah Hikmahanto.
Dampak Global dan Posisi Indonesia
Konflik ini dikhawatirkan akan menyeret kekuatan besar lainnya seperti Rusia dan Korea Utara. Rusia diketahui baru saja memperbarui kesepakatan rudal dengan Iran, sementara Korea Utara diprediksi akan bereaksi keras jika militer AS terlibat penuh dalam peperangan di kawasan tersebut.
Mengenai inisiatif Presiden RI Prabowo Subianto yang siap menjadi fasilitator perdamaian, Prof. Hikmahanto menilai langkah tersebut mungkin belum diperlukan saat ini karena konflik baru saja meletus. Namun, peran Indonesia sebagai mediator akan sangat krusial di masa depan sebagai pihak ketiga yang mampu memberikan jalan keluar terhormat bagi negara-negara yang bertikai tanpa harus merasa “kalah” atau “menyerah”.





