Angkatan Laut Iran dilaporkan menembakkan rudal lintas pantai yang menargetkan kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln. Langkah militer ini merupakan bentuk realisasi dari sumpah Teheran untuk menuntut balas atas tewasnya personel mereka dalam insiden sebelumnya.
Pemicu utama eskalasi ini adalah serangan AS terhadap fregat IRIS Dena milik Iran. Pihak militer Iran mengecam keras tindakan tersebut, mengingat kapal IRIS Dena dihantam saat sedang dalam perjalanan pulang dari latihan maritim multinasional Milan 2026 di India. Teheran menegaskan bahwa kapal tersebut tidak berada di zona tempur dan tengah membawa kadet muda dalam misi pelatihan damai, sehingga serangan tersebut dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional yang berat.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah memperingatkan bahwa Washington akan menghadapi konsekuensi serius atas tindakan yang ia sebut sebagai “penyerangan di perairan internasional tanpa peringatan.” Selain serangan rudal terbaru, pihak komando operasi Iran melalui Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menyatakan telah melakukan pengintaian dan pencegatan terhadap grup kapal induk AS menggunakan drone domestik di Laut Oman.
Respons Iran tidak hanya terbatas pada USS Abraham Lincoln. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan telah mengaktifkan ratusan rudal balistik dan pesawat tanpa awak yang diarahkan ke berbagai pangkalan strategis AS serta titik-titik krusial di wilayah tersebut. Pihak Iran mengklaim bahwa kehadiran militer Amerika yang bertujuan untuk memberikan tekanan psikologis telah gagal, ditandai dengan mundurnya armada kapal induk tersebut menjauh dari perbatasan maritim mereka.





