Kesaksian Penyiksaan dan Penjara Darurat RSF di Darfur Utara

TAWILA – Di dalam kegelapan kontainer pengiriman yang tertutup rapat tanpa udara, suara benturan tubuh menjadi pertanda bagi Ibrahim Noureldin bahwa satu lagi rekan tahanannya telah tewas.

Ibrahim, pria berusia empat puluh dua tahun, merupakan satu dari ribuan orang yang menjadi korban dalam pengambilalihan kota El-Fasher oleh pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) pada Oktober lalu.

Pertempuran di wilayah Darfur Utara ini telah memicu penyelidikan mendalam oleh PBB yang menyebut adanya ciri-ciri genosida dalam skala besar.

Dari kota Tawila, sebuah pemukiman pengungsi yang kini kewalahan menampung ratusan ribu jiwa, para penyintas mulai memecah kebisuannya untuk menceritakan jaringan penjara darurat yang sangat tidak manusiawi.

Penyelidikan oleh kantor hak asasi manusia PBB dan Pusat Ketahanan Informasi (CIR) yang berbasis di London mengungkapkan bahwa RSF telah mengubah infrastruktur publik seperti rumah sakit anak-anak, sekolah, hingga gudang menjadi pusat penahanan massal.

Ibrahim Noureldin menceritakan bagaimana ia disekap bersama seratus dua puluh orang lainnya di dalam kontainer logam di pasar Al-Borsa.

Selama lebih dari satu bulan, mereka hanya bertahan hidup dengan tegukan kecil air dan sedikit lentil, sementara mereka yang meninggal karena kehausan atau kelaparan harus dikuburkan oleh tahanan lain di bawah ancaman cambuk.

Para tahanan yang mencakup dokter, guru, jurnalis, hingga staf bantuan ini sering kali ditahan demi uang tebusan atau dituduh berafiliasi dengan tentara reguler Sudan berdasarkan identitas suku mereka.

Kekejaman yang terjadi di pusat penahanan lain, seperti Rumah Sakit Anak El-Fasher, dilaporkan jauh lebih mengerikan dengan lebih dari dua ribu pria yang disekap tanpa akses dasar.

Saksi mata seperti Abdullah Idris dan Ahmed Aman menggambarkan pemandangan di mana puluhan orang meninggal setiap hari akibat wabah penyakit serupa kolera dan penyiksaan fisik yang brutal.

Aman mengungkapkan bahwa beberapa tahanan mengalami pencabutan kuku jari menggunakan tang, sementara mereka yang berani berbicara akan langsung dieksekusi dengan satu tembakan.

Rekaman video yang diverifikasi bahkan menunjukkan adanya ratusan tahanan, termasuk wanita dan anak-anak, yang digiring secara paksa ke lokasi penahanan terpencil di luar kota.

Penderitaan yang dialami kaum wanita juga menjadi catatan kelam dalam konflik ini, sebagaimana dikisahkan oleh Nedal Yasser yang diculik dan disekap selama enam minggu.

Selama berpindah-pindah lokasi penahanan, termasuk di depot bus Al-Mina Al-Bary, ia mengalami penyiksaan fisik, interogasi berat, hingga pelecehan seksual sistematis setelah identitas suaminya sebagai tentara terungkap.

Nedal akhirnya dibuang di daerah terpencil setelah dijarah habis-bahis, dan terpaksa berjalan kaki puluhan kilometer menuju Tawila dalam kondisi keguguran.

Meski RSF membantah laporan-laporan ini dan menyebutnya sebagai propaganda, bukti-bukti fisik berupa bekas luka cambuk di punggung para penyintas serta citra satelit terus memperkuat dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang berat.

Hingga saat ini, El-Fasher masih berada dalam cengkeraman ketat RSF yang membatasi akses bantuan kemanusiaan dan mengubah kota tersebut menjadi wilayah yang mati.

Ribuan tahanan lainnya diperkirakan telah dipindahkan ke penjara Tagris di Nyala, di mana pemadaman komunikasi total diberlakukan untuk menutupi kondisi para tawanan.

Di Tawila, para korban selamat kini hidup dengan trauma mendalam dan cacat fisik permanen, menjadi saksi hidup atas perlakuan kejam di mana manusia diburu dan dibunuh secara acak layaknya binatang di tengah perang saudara Sudan yang telah berlangsung selama hampir tiga tahun.

Related posts