RIYADH – Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Mohamed Albudaiwi, mengeluarkan pernyataan keras pada Minggu (22/03/2026) yang mengutuk rentetan serangan Iran terhadap negara-negara anggota.
Albudaiwi menggambarkan tindakan Teheran sebagai bentuk agresi yang tidak dapat diterima karena merusak upaya de-eskalasi serta mengancam keamanan regional dan internasional secara fundamental.
Menurut pihak GCC, penargetan sengaja terhadap infrastruktur sipil dan fasilitas minyak merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional yang menjadi ancaman langsung bagi stabilitas pasokan energi global.
Albudaiwi juga membantah keras klaim Iran yang mencoba menyalahkan negara-negara Teluk atas operasi militer tertentu, menegaskan bahwa tuduhan tersebut sama sekali tidak berdasar mengingat kebijakan GCC yang selalu menjunjung tinggi kedaulatan negara dan prinsip non-intervensi.
Ketegangan diplomatik ini muncul bersamaan dengan laporan eskalasi militer nyata yang melanda berbagai negara anggota GCC sepanjang akhir pekan.
Di Arab Saudi, Teheran dilaporkan telah menembakkan tiga rudal balistik ke arah ibu kota Riyadh pada Minggu pagi, sementara sepuluh drone yang diarahkan menuju pusat industri minyak di Provinsi Timur berhasil dicegat dan dihancurkan oleh sistem pertahanan udara.
Situasi yang lebih mencolok dilaporkan oleh otoritas keamanan Bahrain, yang mengeklaim telah melumpuhkan total seratus empat puluh tiga rudal dan dua ratus empat puluh empat drone sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab dan pemerintah Kuwait juga melaporkan adanya intersepsi terhadap belasan rudal balistik serta pesawat tak berawak dalam kurun waktu dua puluh empat jam terakhir.
Menanggapi situasi yang kian memburuk, GCC menyatakan kembali hak kolektif negara-negara anggotanya untuk mengambil seluruh tindakan yang diperlukan guna melindungi keamanan, stabilitas, serta aset sumber daya mereka dari agresi luar.
Albudaiwi menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera memaksa Iran agar mematuhi Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817 Tahun 2026 dan menghentikan segala bentuk provokasi terhadap negara-negara tetangga.
Saat ini, seluruh semenanjung Arab berada dalam status siaga tertinggi sebagai upaya untuk menjaga operasional fasilitas energi yang menjadi tumpuan ekonomi dunia di tengah berkecamuknya perang antara aliansi Amerika Serikat-Israel dan Iran.





