WASHINGTON – Pasukan Marinir Amerika Serikat melakukan aksi penggerebekan terhadap sebuah kapal komersial di Laut Arab pada Selasa, 5 Mei 2026. Langkah agresif ini diambil sebagai bagian dari penegakan blokade militer AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang telah berlangsung selama beberapa minggu terakhir. Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa unit mereka menaiki kapal bernama M/V Blue Star III karena dicurigai berupaya melanggar aturan blokade yang ditetapkan oleh Washington.
Setelah dilakukan penggeledahan menyeluruh di atas kapal, pasukan AS akhirnya melepaskan M/V Blue Star III. CENTCOM melalui pernyataan resmi di platform X menjelaskan bahwa pemeriksaan tersebut mengonfirmasi bahwa rute pelayaran kapal tersebut tidak mencakup kunjungan ke pelabuhan Iran manapun. “Pasukan Amerika terus beroperasi dan menegakkan blokade di seluruh Timur Tengah. Sejauh ini, 39 kapal telah dialihkan untuk memastikan kepatuhan,” tulis komando militer tersebut. Unggahan itu juga menyertakan klip video yang menunjukkan helikopter bermanuver di atas tumpukan kontainer saat personel Marinir turun menggunakan tali (roping) ke dek kapal.
Situasi maritim di kawasan tersebut telah menjadi medan pertempuran ekonomi yang sengit sejak dimulainya kampanye udara AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Sebagai balasan, Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas dunia. Menanggapi kegagalan perundingan damai di Pakistan yang tidak membuahkan hasil signifikan, Amerika Serikat secara resmi memberlakukan blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran mulai 13 April 2026.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan bahwa blokade ini akan terus dipertahankan “selama waktu yang dibutuhkan” untuk menekan Teheran. Senada dengan itu, Jenderal Dan Caine, pejabat tinggi militer AS, menyatakan bahwa larangan ini berlaku universal bagi seluruh kapal tanpa memandang kebangsaan, baik yang menuju maupun yang berangkat dari pelabuhan Iran. Ketegangan di Laut Arab ini menunjukkan bahwa meskipun upaya diplomatik sedang diusahakan di berbagai ibu kota negara, konfrontasi militer di jalur perdagangan energi dunia masih terus berlanjut dengan intensitas tinggi.





