WASHINGTON – Presiden AS Donald Trump telah menginstruksikan para pembantunya untuk mempersiapkan perpanjangan blokade Angkatan Laut AS di Selat Hormuz, sebuah langkah yang secara drastis meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Melalui laporan Wall Street Journal pada Selasa malam, 5 Mei 2026, Trump memutuskan untuk terus memutus ekspor minyak Iran dengan menghentikan setiap kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Republik Islam tersebut. Langkah ini diambil setelah Trump secara terbuka menolak proposal damai terbaru dari Teheran yang dianggap tidak memadai.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump mengeklaim bahwa Iran sedang berada dalam kondisi “runtuh” dan sangat mendesak AS untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut guna memulihkan situasi kepemimpinan internal mereka. Namun, titik krusial kegagalan diplomasi terletak pada urutan prioritas: Iran menawarkan penyelesaian konflik dan sengketa pelayaran terlebih dahulu sebelum membahas program nuklir, sementara Trump bersikeras bahwa isu nuklir harus ditangani sejak awal perundingan. Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Reza Talaei-Nik, membalas dengan menyebut tuntutan Washington “tidak rasional” dan menegaskan bahwa AS tidak lagi berada dalam posisi untuk mendikte negara merdeka.
Dampak ekonomi dari “perang saraf” di selat ini kian mengkhawatirkan. Harga minyak mentah Brent melonjak 2,8 persen mencapai kisaran $111,26 per barel. Bank Dunia bahkan memprediksi harga energi bisa melonjak hingga 24 persen pada tahun 2026 jika gangguan akut ini tidak berakhir pada bulan Mei. Ketegangan ini juga memicu keretakan di antara negara-negara Teluk, ditandai dengan pengumuman Uni Emirat Arab (UEA) yang keluar dari OPEC dan OPEC+, sebuah langkah mengejutkan yang mencerminkan ketidaksepakatan mendalam atas penanganan krisis Iran.
Meskipun blokade laut AS telah memaksa setidaknya enam tanker minyak Iran untuk berbalik arah, juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengeklaim Teheran berhasil menetralkan efek tersebut dengan mengalihkan perdagangan melalui koridor utara, timur, dan barat yang tidak bergantung pada pelabuhan Teluk. Data pelacakan kapal menunjukkan penurunan lalu lintas yang drastis di Selat Hormuz; dari rata-rata 130 kapal per hari sebelum perang, kini hanya tersisa tujuh kapal dalam 24 jam terakhir, dan tidak satu pun mengangkut minyak untuk pasar global.
Di tengah situasi yang disebut Qatar sebagai potensi “konflik beku” (frozen conflict), AS juga memperketat jeratan sanksi finansial. Pada hari Selasa, Washington menjatuhkan sanksi terhadap 35 entitas dan individu yang terlibat dalam “sistem perbankan bayangan” Iran, yang dituduh memfasilitasi perputaran puluhan miliar dolar untuk menghindari sanksi dan mendanai terorisme. Sementara itu, tingkat persetujuan (approval rating) Trump di dalam negeri turun ke titik terendah (34 persen) seiring meningkatnya kekecewaan warga Amerika terhadap biaya hidup dan perang yang tak kunjung usai.





