Naftali Bennett dan Yair Lapid Bersatu demi Tumbangkan Benjamin Netanyahu

YERUSALEM – Gejolak politik Israel memasuki babak baru setelah mantan Perdana Menteri Naftali Bennett dan pemimpin oposisi Yair Lapid mengumumkan pembentukan aliansi politik pada Minggu, 3 Mei 2026.

Keduanya sepakat untuk maju dalam satu daftar gabungan di bawah partai baru bernama Beyahad (Bersama) untuk menghadapi pemilihan umum Oktober mendatang. Langkah strategis ini bertujuan mengakhiri dominasi Benjamin Netanyahu yang telah memimpin Israel selama lebih dari 18 tahun.

Read More

Dalam pernyataan televisi bersama, Bennett menyebut penggabungan ini sebagai langkah “paling Zionis dan patriotik” untuk membawa Israel ke era baru. Ia akan memimpin partai Beyahad dengan janji utama untuk membentuk komisi penyelidikan nasional guna mengusut kegagalan intelijen dan keamanan terkait serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 sebuah langkah yang selama ini ditolak keras oleh pemerintahan Netanyahu. Bennett, yang memiliki latar belakang sebagai perwira komando dan pengusaha teknologi sukses, dipandang oleh para pengamat sebagai kandidat terkuat yang mampu menarik simpati generasi muda Israel setelah dua tahun perang di Gaza.

Yair Lapid, yang juga sempat menjabat sebagai perdana menteri sementara, memberikan dukungan penuh kepada Bennett meskipun keduanya memiliki spektrum politik yang berbeda. Lapid menyebut Bennett sebagai politisi sayap kanan yang “jujur” dan menekankan adanya rasa saling percaya yang kuat di antara mereka. Lapid sebelumnya sangat kritis terhadap kebijakan luar negeri Netanyahu, termasuk menyebut gencatan senjata dua minggu dengan Iran baru-baru ini sebagai “bencana politik” bagi posisi tawar Israel.

Aliansi ini bukanlah kerja sama pertama bagi mereka; Bennett dan Lapid pernah membentuk pemerintahan koalisi persatuan pada Juni 2021 sebelum akhirnya digantikan oleh pemerintahan sayap kanan Likud pimpinan Netanyahu pada akhir 2022. Dalam upaya memperkuat barisan, Bennett juga secara terbuka mengajak Gadi Eisenkot, pemimpin partai tengah Yashar, untuk bergabung dalam daftar gabungan tersebut guna membentuk “Blok Perbaikan” yang lebih luas dan solid.

Di sisi lain, Benjamin Netanyahu yang kini berusia 76 tahun tetap berencana memimpin Partai Likud dalam pemilihan umum yang harus digelar paling lambat akhir Oktober 2026. Pertarungan politik ini diprediksi akan menjadi salah satu yang paling sengit dalam sejarah Israel, mengingat kondisi negara yang masih dalam pemulihan pasca-perang Gaza serta ketegangan maritim yang belum sepenuhnya mereda di Selat Hormuz. Kehadiran koalisi Beyahad menjadi tantangan serius bagi status quo Netanyahu yang selama ini mengandalkan dukungan kuat dari kelompok pemukim dan partai-partai religius.

Related posts