Warga Palestina Gunakan Puing Sisa Perang untuk Perbaiki Jalan di Jalur Gaza

KOTA GAZA – Di tengah tumpukan beton dan baja yang hancur, warga Palestina mulai memanfaatkan puing-puing sisa serangan dua tahun Israel untuk memperbaiki jalan-jalan yang rusak di Jalur Gaza. Melalui proyek yang dikelola oleh Program Pembangunan PBB (UNDP), warga menghancurkan beton dan memisahkan logam untuk dijadikan bahan pengerasan jalan. Inisiatif ini dipandang sebagai langkah krusial dalam merehabilitasi kota-kota yang luluh lantak, terutama saat kemajuan rencana perdamaian Presiden AS Donald Trump di Gaza masih menemui jalan buntu.

Proyek UNDP ini muncul sebagai upaya darurat untuk membersihkan gunung-gunung puing yang menurut para pejabat telah memblokir akses vital ke sumur-sumur air, rumah sakit, dan melumpuhkan roda ekonomi. Alessandro Mrakic, kepala kantor UNDP di Gaza, mengungkapkan bahwa wilayah tersebut menghadapi tantangan pembersihan pasca-perang terbesar dalam sejarah modern dengan estimasi mencapai 61 juta ton puing. “Selain pengumpulan, kami telah mulai menyortir, menghancurkan, dan menggunakannya kembali untuk merehabilitasi jalan serta area dapur umum,” jelas Mrakic.

Read More

Di Khan Younis, Gaza selatan, alat-alat berat terus bekerja membelah gundukan beton yang hancur, menimbulkan kepulan debu di saat para pekerja memilah baja yang bengkok dari bangunan yang runtuh. Namun, progres pekerjaan ini sangat bergantung pada faktor keamanan. Sebelum puing dapat dipindahkan, lokasi harus diperiksa terlebih dahulu dari ancaman amunisi yang belum meledak melalui koordinasi dengan layanan ranjau PBB (UNMAS). Selain risiko ledakan, para pekerja seperti Ibrahim Al-Sarsawi (32) juga menghadapi risiko terpapar tembakan nyasar karena lokasi kerja yang dekat dengan garis gencatan senjata Israel-Hamas.

UNDP memperkirakan bahwa pembersihan total puing di Gaza bisa memakan waktu hingga tujuh tahun, dengan asumsi akses alat berat tidak terhambat dan pasokan bahan bakar tetap konsisten—dua hal yang seringkali sulit terpenuhi akibat pembatasan keamanan oleh Israel. Hingga saat ini, UNDP baru berhasil memindahkan sekitar 287.000 ton puing, jumlah yang oleh Mrakic disebut hanyalah “ujung gunung es” dibandingkan total kerusakan yang ada.

Berdasarkan penilaian terbaru dari Uni Eropa, PBB, dan Bank Dunia, proses pemulihan dan rekonstruksi Gaza akan membutuhkan dana sebesar 71,4 miliar dolar AS selama satu dekade ke depan. Bagi warga Gaza seperti Sobhi Dawoud (60) yang tinggal di perkemahan tenda, selesainya pertempuran hanyalah awal dari tantangan besar lainnya. “Perang fisik mungkin sudah usai, tetapi ini adalah awal dari ‘perang baru’—perang rekonstruksi untuk memperbaiki infrastruktur, listrik, air, dan sekolah kami,” ujarnya.

Related posts