Serangan Israel Tewaskan Tentara Lebanon dan Warga Sipil di Selatan

BEIRUT – Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diperpanjang, kekerasan mematikan terus melanda Lebanon selatan. Pada Rabu, 29 April 2026, militer Lebanon mengonfirmasi bahwa salah satu tentaranya tewas bersama saudara laki-lakinya akibat serangan udara Israel di kota Khirbet Selm, distrik Bint Jbeil. Insiden tragis ini terjadi saat keduanya sedang dalam perjalanan pulang menggunakan sepeda motor dari pos penjagaan sang tentara.

Eskalasi ini menambah daftar panjang korban sejak gencatan senjata dimulai kurang dari dua pekan lalu. Hingga saat ini, sedikitnya 53 orang telah tewas di Lebanon akibat serangan Israel selama periode gencatan senjata tersebut. Sehari sebelumnya, serangan di berbagai lokasi di selatan menewaskan 11 orang, termasuk tiga personel pertahanan sipil. Perdana Menteri Nawaf Salam mengecam keras serangan terhadap pekerja kemanusiaan tersebut dan melabelinya sebagai “kejahatan perang.”

Read More

Gencatan senjata yang awalnya dimulai pada 17 April selama 10 hari dan diperpanjang tiga minggu ini dimaksudkan untuk menghentikan perang antara Israel dan Hizbullah. Namun, militer Israel tetap aktif beroperasi di dalam apa yang mereka sebut sebagai “Garis Kuning” (Yellow Line)—sebuah zona penyangga sedalam 10 kilometer di sepanjang perbatasan Lebanon di mana warga sipil dilarang kembali. Israel berdalih bahwa berdasarkan ketentuan gencatan senjata, mereka berhak mengambil tindakan terhadap ancaman yang dianggap “direncanakan, akan segera terjadi, atau sedang berlangsung.”

Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon melaporkan bahwa selain serangan udara di belasan lokasi, pasukan darat Israel juga melakukan peledakan rumah secara sistematis di setidaknya dua desa selatan. Di sisi lain, Presiden Joseph Aoun menyatakan bahwa otoritas Lebanon terus melakukan kontak diplomatik untuk memperkuat gencatan senjata dan menghentikan penghancuran rumah-rumah warga.

Situasi tetap tegang karena Hizbullah terus menolak perundingan langsung dengan Israel. Anggota parlemen dari Hizbullah, Hassan Fadlallah, bersumpah bahwa upaya Israel untuk membangun “sabuk keamanan” di tanah Lebanon akan digagalkan oleh perlawanan rakyat. Hizbullah mengeklaim serangan balasan mereka ke sasaran Israel dalam beberapa hari terakhir merupakan respons atas pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan oleh pihak militer Israel.

Related posts