JAKARTA – Anggaran militer Amerika Serikat dilaporkan terkuras habis secara drastis dalam fase awal konflik terbuka melawan Iran. Pejabat Pentagon mengungkapkan kepada Kongres bahwa biaya operasi militer pada satu minggu pertama saja telah melonjak hingga menyentuh angka US$6 miliar, atau setara dengan lebih dari Rp101 triliun. Laporan ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pembuat kebijakan terkait stabilitas ekonomi dan kesiapan stok persenjataan nasional dalam jangka panjang.
Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan New York Times, pengeluaran terbesar dialokasikan untuk sektor pertahanan udara dan serangan presisi. Dari total biaya tersebut, sekitar US$4 miliar dihabiskan khusus untuk kebutuhan amunisi serta pengoperasian sistem pencegat rudal canggih. Peralatan tersebut dikerahkan secara masif guna menangkis gelombang serangan rudal dan drone balasan dari Iran yang terus menghujani aset-aset militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
Besarnya angka pengeluaran ini memicu perdebatan panas dalam sesi pembahasan di Kongres pekan ini. Sejumlah pejabat senior pertahanan memberikan sinyal kuat bahwa pemerintah Washington kemungkinan besar harus segera mengajukan dana tambahan dalam waktu dekat. Tambahan modal tersebut dinilai krusial bukan hanya untuk mempertahankan intensitas operasi tempur yang sedang berjalan, tetapi juga untuk melakukan pengisian kembali (restock) gudang senjata AS yang mulai menipis akibat tingginya konsumsi amunisi di medan perang.
Kondisi ini menempatkan Gedung Putih dalam posisi yang sulit secara domestik, terutama karena kenaikan biaya energi global juga tengah menghantam ekonomi AS. Para pengamat memperingatkan bahwa jika skala konflik tetap berada pada level saat ini, beban finansial yang harus ditanggung Amerika Serikat akan terus membengkak, yang berpotensi mengganggu prioritas pendanaan nasional lainnya sekaligus menekan cadangan pertahanan strategis negara tersebut.





