DUBAI – Ketegangan di Selat Hormuz mencapai titik didih baru setelah militer Iran menembaki tiga kapal komersial dan menyita dua di antaranya pada Rabu, 22 April 2026.
Insiden dramatis ini terjadi hanya sehari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperpanjang gencatan senjata namun tetap mempertahankan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Republik Islam tersebut.
Kebuntuan diplomatik ini kini secara efektif melumpuhkan jalur nadi energi dunia, di mana 20 persen pasokan minyak global biasanya melintas, dan memicu peringatan krisis energi terburuk dalam setengah abad terakhir.
Garda Revolusi Iran melaporkan bahwa kapal MSC Francesca yang berbendera Panama dan Epaminondas yang terdaftar di Liberia telah dikawal paksa menuju pelabuhan Iran.
Technomar, perusahaan pengelola Epaminondas, mengonfirmasi bahwa kapal mereka didekati dan ditembaki oleh kapal perang di lepas pantai Oman, yang mengakibatkan kerusakan pada bagian jembatan kapal. Meskipun Panama mengutuk tindakan tersebut sebagai “penyitaan ilegal”, Gedung Putih melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt menyatakan bahwa penyitaan ini secara teknis tidak melanggar ketentuan gencatan senjata karena kapal-kapal yang terlibat bukan milik AS maupun Israel.
Dampak ekonomi dari blokade dan serangan maritim ini telah merembet jauh ke luar wilayah Teluk. Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jørgensen, memperingatkan bahwa gangguan ini merugikan Eropa sekitar 500 juta euro atau setara 600 juta dolar AS setiap harinya.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent terus bertahan di atas 100 dolar AS per barel, menandai kenaikan sebesar 35 persen sejak perang pecah pada 28 Februari 2026. Krisis ini juga memicu lonjakan harga pangan global, menambah beban berat bagi konsumen dan pelaku bisnis di seluruh dunia.
Di sisi lain, efektivitas blokade AS mulai dipertanyakan. Data dari firma analitik Vortexa mencatat adanya 34 pergerakan kapal tanker terkait Iran yang tetap menembus blokade sejak 13 April 2026. Enam di antaranya dikonfirmasi membawa sekitar 10,7 juta barel minyak mentah Iran keluar dari Teluk Arab. Namun, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengeklaim telah memulangkan sedikitnya 31 kapal yang mencoba melanggar zona blokade mereka, menunjukkan intensitas pengepungan ekonomi yang masih berlangsung ketat.
Secara diplomatik, prospek perundingan di Pakistan tampak suram. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan melalui platform X bahwa gencatan senjata tidak akan ada artinya selama blokade pelabuhan Iran tetap diberlakukan oleh Washington.
Teheran bersikeras tidak akan mengirimkan delegasi ke meja runding sampai AS mencabut tekanan ekonominya. Ketidakpastian ini menciptakan kecemasan mendalam di kalangan warga sipil di Teheran, yang kini hidup dalam ambivalensi antara status gencatan senjata yang rapuh atau kembalinya peperangan terbuka.
Sementara perhatian dunia tertuju pada Selat Hormuz, krisis kemanusiaan di Lebanon selatan terus memburuk. Serangan udara Israel di desa Al-Tiri pada Rabu pagi merenggut nyawa jurnalis senior harian Al-Akhbar, Amal Khalil, saat ia tengah meliput konflik.
Total korban jiwa sejak dimulainya perang telah melampaui 3.300 orang di Iran dan 2.200 orang di Lebanon. Dengan pertemuan duta besar Israel dan Lebanon di Washington yang dijadwalkan pada Kamis, 23 April 2026, dunia menanti apakah celah diplomasi yang sempit ini mampu mengakhiri siklus kekerasan sebelum konflik energi ini berubah menjadi perang global yang permanen.





