AMERIKA SERIKAT – Ketidakpastian baru menyelimuti jalur pelayaran paling krusial di dunia, Selat Hormuz, menyusul insiden penghapusan informasi digital oleh pejabat tinggi Amerika Serikat.
Menteri Energi AS, Chris Wright, memicu kegempaan di pasar global setelah mengunggah pernyataan yang mengklaim bahwa Angkatan Laut AS telah berhasil mengawal sebuah kapal tanker minyak untuk menjamin pasokan energi dunia.
Namun, unggahan tersebut ditarik kembali hanya dalam hitungan menit setelah dipublikasikan pada hari Selasa, menciptakan spekulasi mengenai keakuratan operasional di wilayah yang tengah membara akibat konflik tersebut.
Dampak dari sinyal yang simpang siur ini langsung terasa pada fluktuasi pasar komoditas. Harga minyak mentah sempat mengalami penurunan sesaat setelah klaim Wright muncul, sebelum akhirnya kembali terkoreksi naik setelah informasi tersebut menghilang dari ruang publik.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi atau laporan valid yang menunjukkan adanya aktivitas pengawalan kapal komersial oleh militer Amerika Serikat sejak pecahnya konfrontasi di akhir Februari. Ketidakkonsistenan komunikasi dari Washington ini mempertegas betapa rapuhnya stabilitas keamanan maritim di tengah perang yang sedang berlangsung.
Di seberang jalur perairan, Teheran merespons klaim tersebut dengan nada yang menantang. Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Laksamana Alireza Tangsiri, menegaskan kembali posisi Iran yang tidak akan memberikan izin lintas bagi kapal-kapal yang berafiliasi dengan pihak lawan.
Dengan pernyataan yang provokatif, Tangsiri menantang pihak asing untuk membuktikan klaim pengawalan tersebut di lapangan, seraya memperingatkan bahwa setiap upaya mendekat akan menghadapi konsekuensi serius. Posisi ini didukung oleh otoritas keamanan nasional Iran yang menilai mustahil adanya jaminan keamanan maritim di tengah kobaran konflik yang dipicu oleh agresi asing.
Dominasi Iran di jalur strategis ini semakin ditegaskan melalui pengumuman kontrol penuh IRGC atas Selat Hormuz sejak awal Maret.
Para petinggi militer Iran menyatakan bahwa aturan main di wilayah tersebut kini sepenuhnya berada di bawah kendali mereka, bahkan memberikan peringatan keras agar kapal perang asing tetap berada dalam jarak aman yang sangat jauh dari wilayah kedaulatan Iran.
Situasi ini menunjukkan kontras yang tajam antara narasi yang coba dibangun oleh Washington dengan realitas kekuatan penguasaan laut oleh Garda Revolusi.
Kekacauan informasi ini pada akhirnya menggambarkan kompleksitas perang asimetris yang tidak hanya terjadi di medan tempur fisik, tetapi juga di ruang persepsi publik dan pasar ekonomi. Sementara Amerika Serikat berupaya meyakinkan dunia akan kelancaran arus energi melalui klaim yang kemudian diragukan, Iran secara konsisten menunjukkan taringnya sebagai pemegang otoritas tunggal di gerbang utama minyak dunia tersebut.





