Serangan Udara Sasar Tenda Pengungsi di Ramlet al-Bayda Menewaskan 8 Orang

BEIRUT – Krisis kemanusiaan di Lebanon semakin memburuk menyusul serangan udara yang menyasar warga sipil di titik-titik pengungsian.

Pada Kamis dini hari (12/03/2026), sebuah pesawat nirawak melancarkan serangan terhadap deretan tenda yang menjadi tempat perlindungan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal di sepanjang pantai Ramlet al-Bayda, ibu kota Beirut.

Read More

Laporan awal mengonfirmasi sedikitnya delapan orang tewas di lokasi kejadian, sementara sejumlah lainnya mengalami luka-luka di tengah upaya mereka mencari keamanan di wilayah pesisir.

Kekerasan tidak berhenti di titik tersebut. Di wilayah Gunung Lebanon, rentetan serangan serupa menghantam daerah Aaramoun, di mana salah satu proyektil menyasar sebuah apartemen tempat tinggal.

Agresi yang terus meningkat sejak awal Maret ini kian meluas, melumpuhkan kawasan pemukiman padat penduduk dari pinggiran selatan Beirut hingga ke jantung kota. Lingkungan seperti al-Laylaki, Haret Hreik, dan Ghobeiry terus menjadi target operasi udara intensif yang memicu kerusakan infrastruktur sipil secara masif.

Data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Lebanon menggambarkan skala fatalitas yang mengerikan dalam 24 jam terakhir.

Sepanjang hari Rabu, tercatat sedikitnya 68 orang kehilangan nyawa dan 145 lainnya luka-luka akibat serangan yang tersebar di seluruh negeri. Tragedi berdarah juga dilaporkan terjadi di wilayah selatan, seperti Tibnine, serta di Lembah Bekaa, di mana serangan terhadap sebuah rumah penduduk di kota Sha’ath menewaskan satu keluarga.

Di pusat kota Beirut sendiri, sebuah apartemen di Aicha Bakkar turut dihantam, merenggut nyawa warga sipil termasuk anak-anak di tengah keheningan dini hari.

Intensifikasi serangan ini menciptakan gelombang pengungsian baru yang kian terjepit. Warga yang semula melarikan diri dari wilayah konflik di selatan kini mendapati bahwa tempat-tempat perlindungan sementara mereka baik itu di apartemen sewaan maupun tenda-tenda darurat di pinggir pantai tidak lagi terbebas dari ancaman maut.

Kondisi ini memperparah beban sistem kesehatan nasional yang tengah berjuang menangani ribuan korban luka di bawah tekanan blokade dan keterbatasan sumber daya medis.

Situasi di Lebanon saat ini berada pada titik nadir dengan jumlah korban yang terus bertambah setiap jamnya. Ketiadaan zona aman bagi warga sipil menunjukkan bahwa eskalasi militer telah mengabaikan batas-batas kemanusiaan, mengubah wilayah pemukiman dan pengungsian menjadi medan perang yang mematikan.

Dunia kini menyoroti bagaimana nasib jutaan warga Lebanon yang terjebak dalam pusaran kekerasan yang tampaknya belum menunjukkan tanda-tengah akan mereda.

Related posts