Dukungan Hamas terhadap Kedaulatan Iran: Menegaskan Hak Respons atas Agresi Regional

TEHERAN – Gerakan perlawanan Palestina, Hamas, menyatakan dukungan penuh terhadap hak Republik Islam Iran untuk menanggapi agresi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Perwakilan Hamas di Teheran, Khaled Qaddoumi, menegaskan bahwa posisi Iran dalam menghadapi konfrontasi saat ini merupakan konsekuensi langsung dari keberpihakan negara tersebut terhadap kemanusiaan dan rakyat Palestina.

Read More

Dalam sebuah wawancara strategis, Qaddoumi mengutuk keras rangkaian serangan udara yang menyasar wilayah Iran, terutama insiden yang menimpa sebuah sekolah putri di kota Minab, Iran selatan. Ia menggambarkan peristiwa tersebut sebagai bentuk barbarisme yang tidak memedulikan batasan kemanusiaan.

Menurut Hamas, skala agresi yang telah menyebabkan kerusakan infrastruktur sipil dan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar memberikan legitimasi penuh bagi Teheran untuk menentukan cara dan intensitas balasan yang dianggap paling sesuai untuk menghentikan ancaman di masa depan.

Hamas juga menyerukan pentingnya konsolidasi kekuatan di seluruh dunia Islam guna membentuk front persatuan melawan apa yang mereka sebut sebagai dominasi Zionis-Amerika.

Qaddoumi menyoroti bahwa solidaritas umat Muslim saat ini menjadi kebutuhan mendesak untuk menghentikan kekerasan yang menyasar anak-anak dan warga sipil di kawasan.

Ia menekankan bahwa dalam situasi konflik yang kian meruncing ini, tidak ada lagi ruang untuk sikap netral atau posisi yang ambigu, karena konfrontasi yang terjadi merupakan pertarungan antara nilai keadilan dan penindasan.

Solidaritas antara rakyat dan kepemimpinan Iran terlihat semakin menguat, terutama selama demonstrasi massal Hari Quds Internasional yang baru saja berlangsung. Hamas menilai bahwa keterlibatan Iran dalam perang hari ini adalah bukti komitmen nyata dalam menentang penindasan global.

Bagi gerakan tersebut, operasi perlawanan di berbagai lini merupakan representasi dari upaya penegakan keadilan yang sah di mata hukum internasional dan logika strategis kawasan.

Kampanye militer yang memicu eskalasi ini bermula pada akhir Februari lalu, setelah peristiwa pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam dan sejumlah petinggi militer lainnya.

Sebagai jawaban atas serangan udara masif yang melumpuhkan berbagai aset strategis nasional, Angkatan Bersenjata Iran terus menjalankan operasi pembalasan terkoordinasi yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat dan posisi lawan di wilayah pendudukan.

Dengan dukungan dari berbagai faksi perlawanan regional, Teheran menegaskan akan terus menggunakan hak pembelaan diri hingga stabilitas di dalam negeri benar-benar pulih.

Related posts