ISLAMABAD – Peran Pakistan sebagai fasilitator utama dalam konflik Timur Tengah semakin menguat setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, melakukan pembicaraan telepon mendalam selama lebih dari satu jam dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif pada Sabtu (28/03/2026).
Dalam percakapan tersebut, Pezeshkian menekankan bahwa faktor kepercayaan merupakan fondasi mutlak yang diperlukan untuk memfasilitasi proses mediasi demi mengakhiri permusuhan di kawasan.
Pemimpin Iran tersebut juga memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah-langkah diplomatik yang diambil Islamabad, sementara Sharif memberikan pengarahan mengenai intensitas kontak diplomatik Pakistan dengan Amerika Serikat serta negara-negara Teluk dalam beberapa pekan terakhir.
Sebagai tindak lanjut nyata dari upaya deeskalasi ini, Islamabad bersiap menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi yang melibatkan para menteri luar negeri dari Arab Saudi, Turkiye, dan Mesir pada Minggu dan Senin ini.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, telah mengundang rekan-rekan sejawatnya untuk mengadakan diskusi mendalam mengenai berbagai isu strategis, termasuk mekanisme konkret untuk meredakan ketegangan militer yang kian meluas.
Pertemuan segi empat ini awalnya direncanakan berlangsung di Turkiye, namun dipindahkan ke ibu kota Pakistan guna menyesuaikan dengan agenda mendesak otoritas setempat, sebagaimana dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri Turkiye, Hakan Fidan.
Posisi unik Pakistan sebagai perantara pesan muncul karena hubungan historisnya yang kuat dengan Teheran serta kedekatan strategis dengan negara-negara Teluk.
Di sisi lain, Perdana Menteri Sharif dan Panglima Militer Marsekal Amin Munir dilaporkan telah menjalin hubungan pribadi yang solid dengan Presiden AS Donald Trump, yang memberikan ruang bagi Islamabad untuk berfungsi sebagai jembatan komunikasi yang efektif.
Kabar mengenai urgensi mediasi ini diperkuat oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, yang memprediksi bahwa pertemuan langsung antara perwakilan Amerika Serikat dan Iran kemungkinan besar akan segera terjadi di Pakistan dalam waktu dekat.
Meskipun Teheran secara resmi masih menolak untuk mengakui adanya pembicaraan formal dengan Washington, laporan internal menyebutkan bahwa Iran telah mengirimkan tanggapan atas rencana perdamaian lima belas poin yang diajukan Trump melalui saluran diplomatik Islamabad.
Hal ini menandakan bahwa meskipun pertempuran di lapangan masih berkecamuk, jalur belakang atau back-channel diplomacy di Pakistan sedang bekerja secara intensif untuk mencari titik temu.
Dunia kini menaruh harapan besar pada pertemuan para menteri luar negeri di Islamabad besok, yang diharapkan dapat menghasilkan kerangka kerja awal menuju gencatan senjata yang komprehensif di Asia Barat

