TEHERAN – Di balik gempuran udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel, situasi domestik di Iran menunjukkan anomali yang menantang kalkulasi militer Barat.
Meskipun target-target strategis seperti depo bahan bakar minyak di Teheran telah dihantam, aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat Iran dilaporkan tetap berjalan kondusif tanpa adanya gejolak kepanikan massal atau panic buying.
Fenomena ini mencerminkan keberhasilan Iran dalam mengintegrasikan nilai-nilai teologis ke dalam budaya strategis bangsa yang telah diinstitusikan sejak revolusi 1979 melalui doktrin Mahdafiyat. Keyakinan eskatologis ini membentuk mentalitas masyarakat yang memandang perlawanan terhadap tekanan luar sebagai tugas spiritual, sehingga pergantian rezim atau serangan fisik tidak serta-merta melunturkan semangat juang mereka.
Analis militer menilai bahwa Presiden Donald Trump saat ini terjebak dalam operasi informasi yang kompleks. Klaim Amerika Serikat mengenai kelumpuhan total Iran bertabrakan dengan kenyataan di lapangan bahwa Iran justru sengaja mengadopsi strategi perang asimetris untuk memanjangkan durasi konflik.
Strategi ini dirancang untuk mematahkan target kemenangan cepat Amerika dan mengubahnya menjadi perang berlarut-larut yang sangat mahal secara biaya.
Dengan menggunakan alutsista berbiaya rendah seperti drone kamikaze senilai 20.000 dolar untuk menghadapi rudal canggih Amerika yang berharga miliaran rupiah, Iran berhasil menciptakan beban finansial yang tidak seimbang bagi pihak penyerang dalam jangka panjang.
Kekuatan bertahan Iran juga terletak pada sistem pertahanan yang terdesentralisasi yang dikenal dengan istilah Mosaic Defense. Dalam skema ini, setiap daerah di Iran memiliki otoritas komando mandiri untuk melakukan serangan balik tanpa harus menunggu instruksi dari pusat pemerintahan.
Hal ini memastikan bahwa mesin perang Iran tetap bekerja meskipun komunikasi pusat terganggu atau pemimpin tertinggi tiada. Ketangguhan sistem ini terbukti dengan gagalnya upaya milisi Kurdi yang didukung AS untuk masuk ke wilayah Iran karena berhasil dideteksi dan diintersepsi lebih awal, menunjukkan bahwa koordinasi intelijen daerah masih sangat solid.
Pada akhirnya, stabilitas domestik Iran yang tetap terjaga di hari kesembilan konflik ini memberikan pesan kuat bahwa strategi “penetrasi negara” yang diupayakan Amerika Serikat menghadapi tembok besar berupa kesatuan ideologis dan struktur militer yang adaptif.
Jika Amerika tidak mampu menyelesaikan konflik ini dalam waktu singkat, risiko terjadinya kenaikan harga BBM global dan beban ekonomi perang yang membengkak akan menjadi ancaman serius bagi stabilitas dalam negeri Amerika Serikat sendiri.
Dengan terpilihnya pemimpin tertinggi yang baru, Iran seolah memulai babak baru dalam perlawanan yang diprediksi akan mengadopsi model peperangan panjang sebagaimana yang terjadi dalam konflik Ukraina.





