ISLAMABAD – Upaya mediasi internasional untuk mengakhiri perang besar di Timur Tengah menghadapi rintangan berat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menginstruksikan delegasinya untuk membatalkan rencana perjalanan ke Pakistan pada Sabtu, 25 April 2026.
Meskipun Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah berada di Islamabad untuk merumuskan “posisi prinsip” Teheran, Trump menegaskan melalui wawancara dengan Fox News bahwa Washington tidak akan terburu-buru melakukan negosiasi tatap muka. Ketegangan ini terjadi di tengah “blokade ganda” yang melumpuhkan Selat Hormuz, di mana ekonomi global terus terguncang oleh lonjakan harga energi yang mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun.
Di Islamabad, Abbas Araghchi mengadakan pertemuan intensif dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Darat Marsekal Lapangan Asim Munir. Namun, sumber diplomatik Iran menegaskan bahwa Teheran tidak akan menerima “tuntutan maksimalis” dari pihak AS.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memberikan syarat ketat bagi tercapainya kesepakatan, yaitu Iran harus meninggalkan program senjata nuklirnya secara bermakna dan dapat diverifikasi. Ketidakcocokan posisi dasar ini membuat perundingan damai yang dijadwalkan di Pakistan tetap berada dalam ketidakpastian, meskipun Gedung Putih sempat melihat adanya sedikit kemajuan dari pihak Iran.
Situasi di Selat Hormuz tetap menjadi titik nadir konflik. Data pengiriman menunjukkan hanya lima kapal yang melintasi selat tersebut dalam 24 jam terakhir, sangat jauh dibandingkan rata-rata 130 kapal per hari sebelum perang meletus pada 28 Februari 2026.
Sementara Iran mengklaim memegang kendali penuh atas selat tersebut, militer Teheran memperingatkan akan bereaksi keras jika pasukan AS melanjutkan blokade dan “pembajakan” terhadap kapal-kapal mereka. Ketegangan maritim ini telah menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak 16 persen minggu ini, memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih dalam.
Meskipun diplomasi maritim dan militer menemui jalan buntu, terdapat secercah normalitas di sektor penerbangan sipil. Untuk pertama kalinya sejak awal perang, Bandara Internasional Imam Khomeini Teheran melanjutkan operasi penerbangan internasional pada hari Sabtu.
Penumpang pertama dilaporkan telah berangkat menuju Madinah, Muscat, dan Istanbul. Pembukaan kembali wilayah udara Iran secara bertahap ini dianggap sebagai hasil dari perpanjangan gencatan senjata sepihak oleh Trump selama dua minggu, yang memberikan napas bagi sektor transportasi udara yang sebelumnya lumpuh total.
Di front lain, perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama tiga minggu belum mampu menghentikan pertumpahan darah sepenuhnya. Serangan udara Israel di Lebanon selatan pada hari Sabtu dilaporkan menewaskan empat orang, yang segera dibalas oleh Hizbullah dengan tembakan roket ke arah Israel utara.
Pelanggaran berulang ini menjadi tantangan besar bagi Trump yang menginginkan perdamaian “abadi” di kawasan tersebut. Dengan berakhirnya kunjungan Araghchi di Islamabad tanpa pertemuan langsung dengan perwakilan AS, mata dunia kini tertuju pada apakah mediasi Pakistan mampu menjembatani jurang perbedaan sebelum gencatan senjata yang rapuh ini berakhir.





