BEIRUT – Meskipun kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah telah memasuki hari keenam, kekerasan masih terus membayangi wilayah Lebanon. Pada Rabu fajar, 22 April 2026, sebuah serangan drone Israel menghantam pinggiran Al-Jabur di wilayah Bekaa Barat, menewaskan satu orang dan melukai dua lainnya.
Laporan dari Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon ini mempertegas betapa rapuhnya stabilitas di lapangan, di tengah klaim saling langgar yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang bertikai.
Eskalasi terbaru ini menyusul tindakan balasan dari Hizbullah pada Selasa kemarin, di mana kelompok yang didukung Iran tersebut meluncurkan roket dan drone serang ke sebuah situs di Israel utara.
Hizbullah menyatakan bahwa serangan itu merupakan respons atas “pelanggaran terang-terangan” yang dilakukan militer Israel, termasuk penghancuran rumah-rumah warga sipil dan desa di Lebanon selatan. Sebaliknya, militer Israel berdalih bahwa serangan udara mereka hanya menargetkan peluncur roket sebagai tindakan defensif untuk melindungi tentaranya yang masih ditempatkan di wilayah pendudukan.
Hingga saat ini, tentara Israel tetap aktif melakukan operasi di wilayah Lebanon selatan meski gencatan senjata telah dimulai sejak Jumat pekan lalu. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan pada Minggu, 19 April 2026, bahwa pihaknya tidak akan ragu menggunakan “kekuatan penuh” jika merasa terancam.
Israel bersikeras bahwa berdasarkan ketentuan gencatan senjata, mereka memiliki hak prerogatif untuk bertindak terhadap setiap ancaman yang dianggap “direncanakan, akan segera terjadi, atau sedang berlangsung,” sebuah klausul yang kini menjadi pembenaran atas berlanjutnya operasi militer di kedaulatan Lebanon.
NNA juga melaporkan adanya penembakan artileri dan aktivitas pembongkaran sistematis yang dilakukan oleh pasukan Israel di sejumlah kota selatan yang masih diduduki.
Sejak Hizbullah memasuki konflik pada 2 Maret 2026 untuk mendukung Iran, invasi darat Israel telah menyebabkan kerusakan infrastruktur yang masif. Kini, dengan masih adanya jet tempur dan drone yang melintasi langit Lebanon serta penempatan pasukan darat di zona penyangga, prospek perdamaian yang permanen tampak semakin menjauh dari realitas di lapangan.





