TEHERAN – Pemerintah Iran dilaporkan telah melakukan pergeseran strategi militer yang signifikan dengan memperluas daftar target operasional mereka di Timur Tengah. Berdasarkan laporan Kantor Berita Fars, Teheran kini tidak lagi membatasi serangannya pada instalasi militer, melainkan mulai menyasar aset ekonomi dan kepentingan strategis utama milik Amerika Serikat serta Israel.
Langkah ini diambil sebagai respons atas kerusakan masif yang menimpa infrastruktur sipil Iran, termasuk fasilitas kesehatan dan sekolah, akibat agresi udara koalisi Barat dalam beberapa pekan terakhir.
Keputusan untuk memperlebar cakupan target ini mencerminkan kemarahan Teheran terhadap retorika terbuka pejabat Washington dan Tel Aviv yang dianggap secara langsung mengancam rakyat Iran. Sumber internal menyebutkan bahwa perubahan prioritas ini merupakan bentuk balasan setimpal atas hancurnya fasilitas publik yang krusial bagi hajat hidup penduduk.
Sebagai tindak lanjut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menginstruksikan peningkatan drastis pada intensitas serangan, dengan rencana pelonjakan operasional drone sebesar 20% dan serangan rudal strategis hingga 100% mulai malam ini.
Eskalasi ini merupakan bagian dari “Operasi Janji Sejati 4” yang telah memasuki gelombang ke-28. Dalam operasi terbaru yang diluncurkan pada 8 Maret 2026, IRGC telah mengerahkan rudal generasi terbaru berjuluk “Kheibar”. Alutsista yang dilengkapi hulu ledak sangat berat ini dilaporkan telah menghantam beberapa titik di Tel Aviv dan Bir al-Sabe’, serta menyasar Pangkalan Udara Al-Azraq yang merupakan pusat logistik udara terpenting Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Konflik bersenjata yang pecah sejak 28 Februari 2026 ini telah mengubah peta keamanan Timur Tengah secara fundamental. Serangan terkoordinasi AS-Israel yang menyasar kota-kota besar seperti Teheran, Isfahan, dan Qom dilaporkan telah menyebabkan lebih dari 1.300 warga sipil tewas dan gugurnya pemimpin tertinggi negara.
Kondisi ini memicu reaksi berantai di mana Iran segera membalas dengan menembakkan ratusan rudal balistik dan drone ke berbagai fasilitas sekutu di Bahrain, Qatar, Kuwait, hingga Uni Emirat Arab.
Dengan perluasan wilayah pertempuran yang kini mencakup jalur ekonomi dan pangkalan militer di seluruh Teluk, Teheran menegaskan kemampuannya untuk memproyeksikan kekuatan tempur guna menantang dominasi udara lawan.
Militer Iran menyatakan bahwa kedalaman serangan mereka akan terus meningkat selama agresi terhadap kedaulatan dan rakyat mereka belum dihentikan, menandakan bahwa perang ini telah memasuki fase yang jauh lebih berbahaya bagi stabilitas global.





