WASHINGTON – Operasi militer Amerika Serikat di Iran dilaporkan menghadapi kendala finansial serius akibat kesalahan estimasi awal mengenai durasi dan intensitas konflik. Lonjakan biaya ini terjadi setelah perlawanan balik dari Teheran ternyata jauh lebih tangguh daripada yang diprediksi oleh intelijen Pentagon.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa anggaran pertahanan AS terkuras secara signifikan untuk membiayai pengerahan alat utama sistem persenjataan (alutsista) tambahan. Ketidaksiapan dalam memitigasi serangan balasan Iran memaksa Washington mengalokasikan dana darurat guna memperkuat pertahanan pangkalan mereka di Timur Tengah.
“Ada kesalahan kalkulasi yang nyata terkait bagaimana Iran merespons serangan awal tersebut,” tulis laporan yang menyoroti pembengkakan biaya operasi militer AS di kawasan tersebut.
Kenaikan biaya ini mencakup pengoperasian kapal induk, jet tempur siluman, hingga sistem pertahanan udara Patriot yang harus bekerja ekstra keras menghalau serangan rudal. Selain biaya operasional, AS juga menanggung beban ekonomi akibat fluktuasi harga energi global yang terganggu oleh blokade di Selat Hormuz.
Krisis ini menjadi titik balik bagi pemerintahan Donald Trump yang sebelumnya mengklaim operasi akan berjalan cepat dan mudah. Di dalam negeri, para pengamat anggaran mulai menyuarakan kekhawatiran bahwa perang berkepanjangan ini akan mengganggu stabilitas fiskal nasional.
Hingga kini, Gedung Putih belum memberikan rincian pasti mengenai total kerugian finansial akibat eskalasi ini. Sejumlah pihak memprediksi bahwa tanpa deeskalasi segera, beban ekonomi yang ditanggung pembayar pajak AS akan terus meroket melampaui batas anggaran tahunan.





