Tur Diplomatik Menlu Iran ke Rusia dan Pakistan: Upaya Terakhir Redam Konflik AS-Israel?

ISLAMABAD – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dijadwalkan memulai tur diplomatik krusial pada Jumat, 24 April 2026, yang mencakup kunjungan ke Islamabad, Muscat, dan Moskow.

Kantor berita negara IRNA melaporkan bahwa misi utama kunjungan ini adalah mengadakan konsultasi bilateral serta membahas perkembangan terkini dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut. Islamabad menjadi titik fokus utama, di mana spekulasi mengenai dimulainya kembali perundingan damai langsung antara Teheran dan Washington mulai menguat seiring tibanya tim logistik dan keamanan AS di Pakistan.

Read More

Sumber internal pemerintah Pakistan mengonfirmasi bahwa persiapan keamanan telah dilakukan untuk menyambut potensi pembicaraan tingkat tinggi.

Meskipun belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memberikan isyarat dalam sebuah pengarahan yang menyatakan bahwa Iran saat ini memiliki kesempatan untuk mencapai “kesepakatan yang baik” dengan Amerika Serikat.

Upaya diplomasi ini merupakan upaya lanjutan setelah putaran perundingan pada Selasa lalu gagal terlaksana akibat ketidaksiapan Teheran dan batalnya keberangkatan delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance.

Presiden Donald Trump secara sepihak telah memperpanjang gencatan senjata selama dua minggu pada jam-jam terakhir hari Selasa guna memberikan ruang bagi para perunding untuk berkumpul kembali. Langkah ini disusul oleh kesepakatan perpanjangan gencatan senjata terpisah selama tiga minggu antara Israel dan Lebanon di Gedung Putih pada Kamis kemarin.

Bagi Teheran, stabilitas gencatan senjata di Lebanon merupakan prasyarat mutlak sebelum mereka bersedia membahas penghentian perang yang lebih luas dengan Amerika Serikat. Trump sendiri menegaskan tidak ingin terburu-buru, dengan ambisi mencapai kesepakatan yang bersifat “abadi.”

Di lapangan, kebuntuan maritim di Selat Hormuz tetap menjadi duri dalam upaya perdamaian. Iran telah memblokade hampir seluruh lalu lintas kapal di jalur energi terpenting dunia tersebut selama delapan minggu terakhir, bahkan baru-baru ini menyita dua kapal kargo besar untuk menunjukkan kendali mereka. Sebagai balasan,

Trump memberlakukan blokade tandingan terhadap pengiriman Iran pekan lalu. Teheran bersikeras tidak akan membuka kembali selat tersebut sampai Washington mencabut blokade ekonominya. Data pengiriman pada Jumat, 24 April 2026, menunjukkan hanya lima kapal yang melintasi selat dalam 24 jam terakhir—angka yang sangat kontras dibandingkan rata-rata 130 kapal per hari sebelum perang meletus.

Meski situasi maritim sangat terbatas, perusahaan pengiriman kontainer Hapag-Lloyd melaporkan salah satu kapalnya berhasil menyeberang, sementara satu kapal tanker produk minyak Iran juga terdeteksi melintas.

Namun, ketiadaan supertanker pengangkut minyak mentah di jalur tersebut terus menekan pasar energi global. Kunjungan Araghchi ke Muscat dan Moskow setelah dari Pakistan dipandang sebagai langkah Iran untuk mengonsolidasikan dukungan regional dan internasional, sembari menguji sejauh mana keseriusan Washington dalam mencabut blokade yang menjadi hambatan utama normalisasi jalur pelayaran internasional.

Related posts