Hubungan antara Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Teluk dilaporkan tengah merenggang. Sejumlah negara mitra menyatakan kekecewaannya terhadap pemerintahan Trump karena merasa ditinggalkan dalam kegelapan terkait operasi militer yang menargetkan Iran.
Berdasarkan laporan dari Associated Press, Washington dituding tidak memberikan peringatan dini mengenai serangan tersebut, sekaligus mengabaikan kekhawatiran negara-negara regional akan dampak jangka panjang dari eskalasi perang.
Para pejabat dari dua negara Teluk mengungkapkan bahwa mereka sama sekali tidak dilibatkan atau diberi tahu saat AS dan Israel meluncurkan serangan awal. Ketidakterbukaan ini memicu rasa frustrasi, terutama karena negara-negara di kawasan tersebut hanya memiliki waktu sangat singkat untuk mengantisipasi balasan berupa rudal dan pesawat tak berawak dari Iran yang kini mengancam berbagai titik militer di sekitarnya.
Sentimen ketidakpuasan ini berakar pada persepsi bahwa dukungan militer Amerika saat ini cenderung bias. Seorang pejabat regional menyebutkan adanya kemarahan atas strategi AS yang dianggap hanya memprioritaskan keselamatan Israel dan personel militer Amerika sendiri, sementara membiarkan negara-negara tetangga terpapar risiko besar. Kondisi ini diperparah dengan menipisnya cadangan rudal pencegat milik negara-negara Teluk akibat intensitas serangan yang tinggi.
Di sisi lain, Pentagon mulai mengakui celah dalam sistem pertahanan mereka. Dalam pertemuan tertutup dengan Kongres, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Jenderal Dan Caine dilaporkan mengakui kesulitan dalam membendung gelombang drone Shahed milik Iran.
AS mengakui bahwa kemampuan mereka untuk menetralisir serangan pesawat nirawak secara luas di seluruh wilayah Teluk masih terbatas, terutama untuk melindungi area di luar pangkalan militer konvensional di Irak dan Suriah.





