TEHERAN – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan telah menembak jatuh sebuah pesawat pengisi bahan bakar (refueling aircraft) milik militer Amerika Serikat di wilayah Irak barat.
Insiden ini menandai eskalasi baru dalam konfrontasi langsung antara Teheran dan Washington yang melibatkan aset udara strategis.
Pesawat tanker tersebut dilaporkan sedang menjalankan misi dukungan untuk jet tempur Amerika sebelum dihantam oleh sistem pertahanan udara Iran.
Kehilangan aset ini dinilai sebagai pukulan telak bagi operasional udara AS di kawasan, mengingat peran vital pesawat tanker dalam memperpanjang durasi terbang armada tempur.
“Pasukan pertahanan udara kami berhasil menjatuhkan pesawat tanker musuh yang memberikan dukungan logistik bagi agresi terhadap kedaulatan wilayah,” demikian pernyataan resmi IRGC melalui saluran berita Al Mayadeen, Jumat, 13 Maret 2026.
Hingga saat ini, pihak Pentagon belum memberikan keterangan resmi mengenai status pesawat maupun nasib kru yang berada di dalamnya. Namun, sejumlah laporan lapangan di Irak barat mengonfirmasi adanya ledakan besar di udara yang diikuti dengan jatuhnya puing-puing pesawat di area gurun yang terisolasi.
Kejadian ini menyusul rentetan insiden militer di kawasan perbatasan setelah Iran memperingatkan akan membalas setiap keterlibatan aset AS yang berbasis di negara tetangga.
Para analis militer menilai jatuhnya pesawat tanker ini akan membatasi radius operasional jet tempur AS di Timur Tengah secara signifikan.
Situasi di Irak barat kini dilaporkan sangat tegang dengan peningkatan aktivitas patroli udara dari kedua belah pihak.
Pemerintah Irak sendiri hingga kini masih berupaya memverifikasi lokasi jatuhnya pesawat guna memastikan keamanan di wilayah kedaulatan mereka.





