Trump Desak Israel Hentikan Serangan ke Fasilitas Minyak Iran

TEL AVIV – Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengonfirmasi bahwa Presiden AS Donald Trump telah meminta Israel untuk menahan diri dari meluncurkan serangan lebih lanjut terhadap situs energi utama Iran.

Dalam konferensi pers pada Kamis malam (19/03/2026), Netanyahu menyatakan bahwa pihaknya akan mematuhi permintaan Washington tersebut guna mencegah destabilisasi pasar energi global yang kian parah.

Read More

Pernyataan ini muncul setelah serangkaian serangan sepihak Israel terhadap fasilitas pemrosesan di ladang gas Pars Selatan, salah satu cadangan gas alam terbesar di dunia.

Agresi tersebut memicu guncangan ekonomi instan, di mana harga gas Eropa melonjak 6% dan melampaui 650 dolar per 1.000 meter kubik untuk pertama kalinya sejak awal Maret. Ketegangan ini memaksa Gedung Putih melakukan intervensi diplomatik untuk meredam dampak inflasi energi yang mulai membebani sekutu-sekutu Barat.

Iran memberikan respons militer yang cepat dan destruktif atas serangan terhadap aset energinya. Pada 19 Maret, kilang minyak utama di Haifa, Israel, dihantam rudal di dua lokasi strategis yang menyebabkan pemadaman listrik di sebagian besar wilayah kota tersebut.

Di saat yang bersamaan, pusat energi Qatar di Ras Laffan juga mengalami kerusakan parah akibat serangan udara, yang menurut pihak QatarEnergy dapat mengganggu pasokan gas cair (LNG) ke pasar internasional secara signifikan dalam jangka panjang.

Analis energi memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas seperti Ras Laffan dan kilang Haifa menciptakan risiko sistemik bagi rantai pasok global.

Jika fasilitas pemrosesan utama terus menjadi target, dunia akan menghadapi krisis energi yang jauh lebih dalam dibandingkan periode awal perang, mengingat ketergantungan yang tinggi terhadap stabilitas produksi di kawasan Teluk.

Di sisi lain, Teheran memberikan peringatan bahwa mereka tidak akan lagi menunjukkan penahanan diri jika infrastruktur nasionalnya kembali menjadi target.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan melalui platform media sosial bahwa operasi pembalasan yang dilakukan sejauh ini baru menggunakan sebagian kecil dari kekuatan militer Iran.

Araghchi menyatakan bahwa satu-satunya alasan Iran masih menahan serangan berskala penuh adalah untuk menghormati permintaan de-eskalasi internasional.

Namun, ia menekankan akan ada “nol pengekangan” dan respons total jika Israel atau Amerika Serikat kembali melakukan kesalahan perhitungan dengan menyerang fasilitas ekonomi dan energi Iran di masa depan.

Pernyataan ini menempatkan stabilitas kawasan pada titik nadir, di mana setiap gesekan baru dapat memicu perang energi total yang melumpuhkan ekonomi dunia.

Related posts