Sayyed Mojtaba Khamenei Tegaskan Perlawanan Tanpa Batas Terhadap AS dan Israel

TEHERAN – Dalam pernyataan publik pertamanya sejak naik takhta kepemimpinan, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru terpilih, Sayyed Mojtaba Hosseini Khamenei, mengirimkan pesan diplomatik dan militer yang kuat kepada Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem.

Surat resmi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan terima kasih atas belasungkawa pasca syahidnya Sayyed Ali Khamenei, tetapi juga sebagai proklamasi ideologis bahwa Republik Islam tidak akan mundur selangkah pun dalam menghadapi apa yang ia sebut sebagai “musuh terberat umat Islam,” yakni Amerika Serikat dan entitas Zionis.

Read More

Penegasan ini mengakhiri spekulasi mengenai arah kebijakan luar negeri Teheran di bawah kepemimpinan baru, sekaligus mengonsolidasikan poros perlawanan di tengah berkecamuknya perang di kawasan.

Sayyed Mojtaba menekankan bahwa keteguhan dalam menghadapi tekanan Barat merupakan warisan paling menonjol dari mendiang ayahnya yang harus dilanjutkan.

Ia memuji kesetiaan tanpa pamrih para pejuang Hizbullah di Lebanon yang ia sebut sebagai garis depan yang menjaga kredibilitas doktrin perlawanan.

Dengan menyebut nama-nama besar seperti Qassem Soleimani serta para martir senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), pemimpin Iran tersebut menggarisbawahi bahwa sejarah gerakan ini ditulis dengan pengorbanan nyawa para pemimpinnya demi membela martabat bangsa tanpa rasa takut terhadap ancaman militer mana pun.

Secara khusus, Sayyed Mojtaba memberikan apresiasi tinggi kepada tokoh-tokoh ikonik Hizbullah mulai dari Sheikh Ragheb Harb hingga Sayyed Hassan Nasrallah dan Sayyed Hashem Safieddine, yang ia gambarkan sebagai model sejati dari keteguhan iman dan militer.

Menujukan pesannya langsung kepada Sheikh Naim Qassem, ia menyatakan keyakinan penuh bahwa di bawah kepemimpinan Qassem, Hizbullah akan mampu menggagalkan skema strategis musuh Zionis di saat kritis ini. Iran berkomitmen untuk terus menyalurkan dukungan penuh guna memulihkan kebanggaan serta kemakmuran rakyat Lebanon yang kini tengah digempur oleh agresi skala besar.

Terpilihnya Sayyed Mojtaba oleh Majelis Ahli pada 8 Maret lalu dilakukan dengan kecepatan tinggi guna memastikan stabilitas kepemimpinan Iran di tengah kondisi masa perang dan serangan yang menargetkan institusi-institusi negara.

Dalam pidatonya kepada rakyat Iran, ia bersumpah untuk membalas setiap tetes darah warga dan pemimpin yang gugur akibat tindakan “penjahat Amerika Serikat.”

Ia juga memuji peran kelompok sekutu seperti Ansar Allah di Yaman dan Perlawanan Irak, yang menurutnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Republik Islam dalam memutus jalur kehidupan musuh di Timur Tengah.

Menutup pesannya, pemimpin tertinggi ketiga Iran ini menegaskan bahwa kebijakan luar negeri negaranya akan tetap menjadi “perpanjangan jalan Revolusi Islam” yang tidak tergoyahkan.

Dukungan terhadap faksi-faksi perlawanan di Gaza, Lebanon, dan Irak bukan sekadar aliansi taktis, melainkan kewajiban ideologis yang akan terus diperkuat.

Dengan dukungan luas dari berbagai faksi perlawanan regional yang telah menyatakan sumpah setia kepadanya, Sayyed Mojtaba memposisikan dirinya sebagai pusat gravitasi baru dalam konflik geopolitik yang kini sedang menentukan ulang peta kekuatan di Timur Tengah.

Related posts