Buntut Tewasnya Amal Khalil, Lebanon Desak Perlindungan Jurnalis Jadi Agenda Utama di Washington

BEIRUT – Pemerintah Lebanon secara resmi memasukkan isu perlindungan jurnalis dan tenaga medis ke dalam agenda utama pembicaraan diplomatik yang disponsori Amerika Serikat di Washington pada Kamis, 23 April 2026.

Langkah ini diambil menyusul serangan udara mematikan militer Israel yang menewaskan jurnalis senior surat kabar Al-Akhbar, Amal Khalil, dan melukai jurnalis foto Zeinab Faraj di distrik Bint Jbeil. Beirut menuduh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) secara sengaja menargetkan pekerja media yang sedang bertugas, sebuah tindakan yang disebut oleh Perdana Menteri Nawaf Salam sebagai kejahatan perang yang sistematis guna membungkam kebenaran di zona konflik.

Read More

Kronologi insiden di kota Tayri menunjukkan pola serangan yang sangat mengkhawatirkan. Para saksi mata melaporkan bahwa Amal Khalil dan Zeinab Faraj sedang meliput kunjungan kemanusiaan Uskup Agung Paolo Borgia ketika pesawat tempur Israel menghantam kendaraan di depan mereka.

Saat kedua jurnalis tersebut mencari perlindungan di sebuah gedung terdekat, militer Israel dilaporkan menghancurkan bangunan tersebut. Upaya penyelamatan pun terhambat secara dramatis ketika pasukan Israel melepaskan tembakan peringatan ke arah ambulans Palang Merah, memaksa tim medis mundur dan membiarkan Khalil terjebak di bawah reruntuhan selama berjam-jam hingga nyawanya tidak tertolong.

Kematian Amal Khalil menambah daftar panjang korban media, menjadikan total 27 jurnalis yang tewas dalam serangan Israel sejak perang meletus pada tahun 2023. Kepala Sindikat Editor Lebanon, Joseph El-Kosseifi, menegaskan bahwa para korban adalah profesional sipil yang dilindungi oleh hukum humaniter internasional, terlepas dari afiliasi politik media tempat mereka bekerja.

Setidaknya 35 jurnalis lainnya mengalami luka permanen, termasuk jurnalis foto AFP Christina Assi dan Haitham Al-Moussawi yang kehilangan fungsi saraf kakinya, mencerminkan risiko mematikan yang harus dihadapi oleh para pencari berita di Lebanon Selatan.

Di Washington, Duta Besar Lebanon dijadwalkan menekan pemerintah AS untuk bertindak sebagai penengah dan memastikan Israel mematuhi Protokol Tambahan Konvensi Jenewa terkait perlindungan anggota pers.

Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan bahwa impunitas atas serangan-serangan ini berisiko menormalisasi kekerasan terhadap media secara global. Sementara itu, IDF terus membantah telah menargetkan jurnalis secara sengaja dan mengklaim serangan dilakukan terhadap target militer yang berada di dekat lokasi kejadian, meskipun banyak bukti menunjukkan kendaraan dan personel media telah ditandai dengan identitas “PRESS” yang jelas.

Kondisi para penyintas masih kritis, dengan jurnalis foto Zeinab Faraj yang baru saja dipindahkan ke Beirut untuk menjalani serangkaian operasi akibat pendarahan internal yang parah. Sindikat Editor Lebanon kini menginstruksikan seluruh jurnalis di lapangan untuk meningkatkan koordinasi dengan tentara Lebanon dan pasukan UNIFIL guna meminimalisir risiko yang kian tidak terprediksi.

Pertemuan di Washington hari ini dipandang sebagai ujian krusial bagi hukum internasional: apakah komunitas global mampu memberikan perlindungan nyata bagi mereka yang bertaruh nyawa untuk mendokumentasikan perang, atau membiarkan “pendekatan mapan” pembungkaman informasi ini terus berlanjut tanpa konsekuensi.

Related posts