BEIRUT – Hizbullah mengonfirmasi bahwa para pejuangnya tengah terlibat dalam pertempuran darat yang intens melawan pasukan Israel di Lebanon selatan.
Berdasarkan laporan terbaru pada Kamis (19/03/2026), unit perlawanan berhasil melakukan penyergapan strategis terhadap pasukan pendudukan yang mencoba memasuki kota perbatasan Taybeh, sebuah titik krusial dalam dinamika konflik yang pecah sejak awal Maret lalu.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah mengeklaim telah menghancurkan satu unit tank saat musuh pertama kali memasuki wilayah Taybeh.
Ketika pasukan Israel mencoba melanjutkan gerak maju dari area terdekat, pejuang perlawanan kembali menargetkan mereka menggunakan peluru kendali (ATGM) yang mengakibatkan hancurnya lima unit tank Merkava tambahan.
Hizbullah melaporkan bahwa tentara lawan terlihat melarikan diri dari area pertempuran setelah serangan langsung tersebut.
Seorang sumber militer di lapangan mengungkapkan kepada AFP bahwa tentara Israel bergerak maju secara perlahan namun sistematis.
Mereka dilaporkan melakukan penghancuran total terhadap desa-desa perbatasan yang mereka masuki, seperti Kfar Kila dan Aitaroun.
Taktik ini melibatkan penggunaan buldoser untuk melibas bangunan yang tidak hancur oleh serangan udara atau artileri berat, sembari terus terlibat dalam pertempuran kecil melawan unit-unit gerilya Hizbullah.
Kota Khiam juga menjadi titik panas konfrontasi, di mana Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan adanya “malam yang penuh kekerasan” akibat gempuran udara dan artileri yang berlangsung hingga fajar.
Meskipun Hizbullah mengeklaim telah menolak upaya gerak maju di Khiam, sumber anonim menyebutkan bahwa tentara Israel hampir merebut kota strategis tersebut, dengan kemajuan sekitar satu hingga dua kilometer per hari.
Sejak Lebanon ditarik ke dalam perang ini pada 2 Maret sebagai aksi balasan atas pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, serangan balasan Israel telah memakan korban sedikitnya 968 jiwa dan menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi.
Israel telah mengeluarkan peringatan evakuasi bagi seluruh penduduk di selatan Sungai Zahrani—wilayah yang berjarak lebih dari 40 kilometer dari perbatasan—sebagai upaya untuk menciptakan zona penyangga guna melindungi penduduk Israel utara.
Pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi kekerasan yang terus meningkat.
Mereka menyoroti intensitas aktivitas udara dan darat yang tinggi serta peningkatan kehadiran pasukan Israel secara ilegal di dalam wilayah kedaulatan Lebanon.
Situasi ini menempatkan stabilitas regional pada titik yang sangat rawan, di tengah upaya Israel untuk membongkar secara permanen infrastruktur pertahanan Hizbullah di sepanjang garis perbatasan.





