GAZA – Gelombang kekerasan kembali mengguncang Jalur Gaza pada Jumat, 25 April 2026, setelah serangkaian serangan militer Israel menewaskan sedikitnya 13 orang di berbagai titik wilayah Palestina tersebut.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi sejak Oktober lalu secara teknis masih berlaku, kenyataan di lapangan menunjukkan perang belum sepenuhnya berhenti. Insiden paling mematikan terjadi di wilayah Al-Mawasi, Khan Yunis, di mana serangan udara menghantam sebuah kendaraan polisi dan merenggut nyawa delapan orang, termasuk seorang anak berusia 12 tahun.
Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan bahwa serangan di Al-Mawasi tersebut juga menewaskan dua petugas polisi yang sedang bertugas.
Tak lama berselang, serangan artileri Israel menyasar kawasan pemukiman di dekat Rumah Sakit Kamal Adwan, Beit Lahia, yang menewaskan seorang ibu beserta dua anaknya. Serangan ketiga dilaporkan terjadi di pusat Kota Gaza, di mana sebuah pesawat tempur menargetkan patroli polisi lainnya, menewaskan dua petugas tambahan dan melukai dua orang lainnya. Pihak rumah sakit Al-Shifa dan Nasser telah mengonfirmasi jumlah korban dan merilis identitas 12 dari 13 korban tewas tersebut.
Hamas mengecam keras rentetan serangan ini dan menyebutnya sebagai “agresi biadab Zionis” yang menjangkau seluruh pelosok Gaza sejak pagi hari.
Mereka juga melayangkan kritik tajam terhadap komunitas internasional yang dinilai gagal memikul tanggung jawab untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan yang terus berulang. Sementara itu, militer Israel (IDF) dalam pernyataan singkatnya berdalih bahwa pasukan mereka di bawah Komando Selatan telah mengidentifikasi “teroris bersenjata” di Jalur Gaza utara yang dianggap sebagai ancaman langsung, sehingga dilakukan serangan udara untuk mengeliminasi mereka.
Data dari kementerian kesehatan Gaza menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata Oktober dimulai, setidaknya 792 warga Palestina telah tewas akibat berbagai insiden pelanggaran. Di sisi lain, militer Israel melaporkan kehilangan lima tentaranya dalam periode yang sama.
Statistik ini mencerminkan betapa rapuhnya perdamaian di Gaza, di mana warga sipil tetap terjepit di antara saling tuduh pelanggaran gencatan senjata. “Perang tidak pernah benar-benar berhenti… ini tidak adil,” ujar Mohammed Al-Qassas, salah satu keluarga korban di rumah sakit Al-Shifa, menggambarkan keputusasaan penduduk yang terus dihantui ledakan di tengah status gencatan senjata.
Krisis ini semakin diperparah dengan pembatasan akses media yang ketat di dalam Jalur Gaza, mencegah verifikasi independen secara menyeluruh terhadap jumlah korban dan detail pertempuran.
Namun, pemandangan kerangka mobil yang terbakar di tengah kamp tenda pengungsi di Khan Yunis menjadi bukti nyata bahwa keamanan bagi warga sipil di zona yang sebelumnya dinyatakan aman kini semakin tidak terjamin.





