TEL AVIV – Suasana duka menyelimuti Jalur Gaza pada Sabtu, 26 April 2026, saat warga mengantarkan jenazah seorang ibu yang tengah mengandung bayi kembar beserta dua anaknya ke liang lahat.
Mereka adalah bagian dari sedikitnya 13 warga Palestina yang tewas dalam rangkaian serangan militer Israel pada hari Jumat. Meskipun gencatan senjata secara resmi telah diberlakukan sejak 10 Oktober 2025, eskalasi kekerasan yang terus berulang membuat penduduk setempat merasa bahwa perang sebenarnya tidak pernah benar-benar berakhir.
Tragedi paling memilukan menimpa keluarga Khalid Al-Tanani di Beit Lahiya, Jalur Gaza utara. Khalid menceritakan detik-detik mengerikan saat empat peluru artileri menghantam rumahnya secara bertubi-tubi.
Serangan tersebut menewaskan istrinya, Islam Al-Tanani, serta dua anaknya, Hamzah (13) dan Naya (4). Khalid menemukan putri kecilnya, Naya, tewas dalam pelukan ibunya yang sedang hamil tua. Ironisnya, keluarga tersebut baru saja berencana mulai mengumpulkan pakaian bayi untuk si kembar yang sedang dikandung Islam.
Di wilayah selatan, tepatnya di Khan Younis, delapan orang dilaporkan tewas setelah Israel menargetkan sebuah kendaraan polisi di dekat Rumah Sakit Nasser.
Pejabat rumah sakit mengonfirmasi bahwa empat dari korban tewas adalah petugas polisi. Sementara itu, di Kota Gaza, dua pria lainnya juga kehilangan nyawa dalam serangan terpisah. Militer Israel (IDF) berdalih bahwa serangan udara tersebut dilakukan untuk mengeliminasi militan yang mengancam pasukan mereka di lapangan setelah memberikan peringatan kepada warga sipil.
Namun, Khalid Al-Tanani menegaskan bahwa serangan terhadap rumahnya terjadi tanpa peringatan apa pun.
Sejak gencatan senjata yang rapuh dimulai enam bulan lalu, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 790 warga Palestina telah tewas akibat berbagai serangan Israel.
Secara total, sejak perang meletus pada 7 Oktober 2023, jumlah korban jiwa di pihak Palestina telah mencapai angka tragis 72.300 orang. Di sisi lain, militer Israel melaporkan empat tentaranya tewas dalam periode gencatan senjata yang sama, sebagai akibat dari serangan penembakan oleh militan terhadap posisi-posisi militer Israel.
Kekerasan harian ini terus menggerus kepercayaan terhadap efektivitas gencatan senjata internasional. Dengan populasi yang terus terjepit di antara zona militer dan serangan udara yang mendadak, warga Gaza kini hidup dalam ketakutan permanen bahwa setiap saat gencatan senjata ini bisa runtuh sepenuhnya menjadi konfrontasi berskala besar kembali.





