Saat Mata Dunia Tertuju pada Teheran, Krisis Pangan di Gaza Kembali Mencapai Titik Kritis

GAZA – Ketika perhatian diplomatik dunia tersedot oleh eskalasi perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang mengguncang pasar global, krisis kemanusiaan di Jalur Gaza dilaporkan memburuk dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

Badan-badan bantuan internasional memperingatkan bahwa daerah kantong Palestina tersebut kini berada dalam kondisi terpinggirkan, dengan ratusan ribu warga sipil hidup dalam kesengsaraan ekstrem setelah penutupan penyeberangan Rafah pada 1 Maret 2026.

Read More

Penutupan rute vital ini, yang dilakukan otoritas Israel sebagai “penyesuaian keamanan” pasca serangan terhadap Iran, telah menghidupkan kembali ketakutan akan kelaparan massal yang sempat mereda sesaat.

Di tengah ketegangan regional yang meningkat, warga Gaza seperti Maysaa Yousef, seorang ibu dari empat anak, menggambarkan kepanikan yang melanda pasar-pasar lokal.

“Kami bangun dan mengetahui perang dengan Iran telah dimulai. Pagi itu juga, semua penyeberangan ditutup dan Gaza kembali ke titik nol dalam hal ketersediaan pangan,” ungkapnya.

Pembelian panik meletus seketika, membuat stok makanan habis dalam hitungan jam sementara harga melonjak jauh di luar jangkauan warga yang sebagian besar telah kehilangan mata pencaharian. Sistem kesehatan Gaza pun berada di ambang kolaps total, dengan 94 persen rumah sakit dilaporkan rusak atau hancur akibat serangan udara yang terus berlanjut.

Hingga April 2026, setidaknya 2,1 juta orang—hampir seluruh penduduk Gaza—masih berstatus pengungsi internal. Mereka bertahan hidup di bawah tenda-tenda plastik yang tidak mampu melindungi dari badai musim dingin maupun panas musim panas yang menyengat.

Komite Penyelamatan Internasional (IRC) menegaskan bahwa kerawanan pangan akut kini mengancam 1,6 juta orang atau sekitar 77 persen populasi. Selain kelaparan, krisis sanitasi memicu wabah penyakit kulit dan penyebaran hewan pengerat yang tidak terkendali.

Yousef menceritakan kisah memilukan tentang seekor musang yang menggigit wajah bayi baru lahir di sebuah tenda pada malam hari karena tidak adanya sumber cahaya dan obat pengendalian hama yang dilarang masuk oleh blokade.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, telah berulang kali menyerukan pembukaan kembali seluruh penyeberangan, terutama Rafah dan Kerem Shalom, untuk mengalirkan bahan bakar dan bantuan medis penyelamat jiwa. Namun, per 20 April 2026, evakuasi medis ke Mesir terhenti setelah serangan Israel menewaskan kontraktor WHO di Gaza selatan.

Kondisi ini diperparah oleh kehancuran infrastruktur air dan limbah yang menyebabkan limbah mentah mengalir ke kawasan pemukiman, mencemari air minum hingga ditumbuhi ganggang hijau, yang terpaksa tetap dikonsumsi warga karena tidak ada alternatif lain.

Secara statistik, otoritas kesehatan Gaza mencatat setidaknya 72.312 warga Palestina telah terbunuh sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023 hingga awal April tahun ini.

Penilaian bersama Bank Dunia dan PBB menunjukkan bahwa pembangunan manusia di Gaza telah didorong mundur selama 77 tahun, dengan estimasi biaya rekonstruksi mencapai 71,4 miliar dolar AS untuk satu dekade mendatang. Para aktivis kemanusiaan mendesak agar dunia tidak membiarkan krisis Gaza tertutup oleh kebisingan jet tempur di langit Iran, karena bagi jutaan warga sipil di sana, keadaan darurat adalah kenyataan harian yang mengancam nyawa tanpa henti.

Related posts