Hebron Disegel Hari Ketujuh: Jurnalis Ditahan, 691 Sekolah Tutup, dan Angka Pengungsi Masih Disengketakan
Redaksi • 30 Oktober 2026 • 1 Views

HEBRON
Lockdown militer Israel atas Hebron memasuki hari ketujuh pada Kamis 29 Oktober 2026, dengan penggerebekan berlanjut, dua jurnalis asing masih ditahan sesudah diserang pemukim, dan semua 691 sekolah di kegubernuran itu tetap tutup.
Pada hari yang sama, kantor berita WAFA lewat naskah Al Jazeera yang dikutip ulang melaporkan dua warga Palestina luka dan tujuh orang ditahan pasukan Israel, sementara pemukim menyerang warga dan kendaraan di Ras al-Joura, dekat pintu masuk utara kota.
Israel menutup semua pintu masuk dan keluar Hebron sejak Jumat pekan sebelumnya, membatasi gerak warga dan akses ke layanan penting, menurut naskah yang sama.
Latar: pemicu 23 Oktober dan penutupan
Operasi ini dimulai Jumat 23 Oktober 2026 sesudah penembakan di pos pemeriksaan dekat Hebron, yang menurut UN News menewaskan dua tentara Israel dan melukai tiga lainnya, sementara kedua penyerang tewas.
Menurut Pasukan Pertahanan Israel (IDF), dua tentara yang tewas adalah Staff Sgt Ron Yonatan Roytman (23) dan Sgt Yuval Shai Svilem (20), dan angka lima korban awal sama dengan dua tewas ditambah tiga luka ringan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan lewat media sosial bahwa ia memerintahkan pasukan menutup Hebron seketika dan bersiap untuk lockdown penuh di seluruh Yudea dan Samaria, istilah Israel untuk Tepi Barat, menurut naskah Al Jazeera yang dikutip ulang.
Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menyerukan kampanye militer menyeluruh di Tepi Barat, dengan membandingkannya dengan apa yang dilakukan Israel di Gaza, menurut naskah yang sama.
Angka pengungsi tidak pernah menjadi satu total: Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut sekitar 2.000 orang, Wali Kota Hebron Youssef al-Jaabari menyebut sekitar 2.200 orang pada Sabtu 24 Oktober, dan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyebut lebih dari 3.000 orang pada 26 Oktober.
Angka terbaru datang dari Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) lewat naskah Al Jazeera 28 Oktober, yang menyebut pemindahan mendekati 5.000 orang, sehingga rentang yang wajib ditulis adalah sekitar 2.000 sampai hampir 5.000 orang, masing-masing dengan tanggal ukurnya.
Wali kota, warga, Otoritas Palestina, dan kelompok hak asasi menyatakan warga diperintah keluar dari rumah, sementara IDF dalam pernyataan 24 Oktober membantah adanya evakuasi paksa dan menyatakan warga diizinkan keluar sementara lewat titik penyaringan.
Kepala Hak Asasi Manusia PBB Volker Türk pada 26 Oktober menyatakan operasi yang agresif itu menimbulkan kekhawatiran serius soal pemakaian kekuatan yang tidak perlu dan tidak proporsional, dan karakterisasi Türk soal pembersihan etnis adalah karakterisasi pejabat PBB itu, bukan vonis pengadilan.
Türk menyerukan semua yang terusir diizinkan pulang dan Israel memastikan kompensasi dan ganti rugi atas penggusuran dan pembongkaran yang melanggar hukum, menurut pernyataan Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) 26 Oktober.
Jurnalis diserang lalu ditahan di Umm Al-Khair
Komite Pelindungan Jurnalis (CPJ) pada 29 Oktober mengecam penahanan jurnalis Rusia-Israel Andrey Khrzhanovskiy dan jurnalis Amerika Serikat Jasper Nathaniel oleh pasukan Israel dekat Umm Al-Khair, sesudah keduanya diserang pemukim bersama jurnalis lepas Adele Shoko.
Menurut laporan Shoko yang dikutip CPJ, pemukim memukuli Khrzhanovskiy sampai ia kehilangan kesadaran berkali-kali dan mencuri teleponnya, sementara para penyerang menyemprot merica ke Nathaniel dan mengambil kacamata Shoko.
Shoko menulis bahwa pemukim menghalangi ambulans mengevakuasi Khrzhanovskiy, dan pengacara Alon Sapir mengatakan kepada CPJ bahwa keduanya masih dalam tahanan polisi di kantor polisi Kiryat 4 di Hebron pada saat publikasi.
Sapir mengonfirmasi keduanya diserang sehari sebelumnya dan Khrzhanovskiy dipukul di kepala serta membutuhkan perawatan medis, sementara Shoko mengklaim mereka ditolak perawatan medis atas luka yang diderita.
Menurut CPJ, otoritas belum mengungkapkan dasar hukum khusus, keadaan penahanan, atau durasi penahanan keduanya pada saat publikasi, dan surel CPJ kepada juru bicara polisi Israel untuk meminta klarifikasi belum menerima tanggapan.
Kabar dari aktivis lewat sebuah laporan agregator menyebut Khrzhanovskiy dibebaskan sesudah sidang pengadilan pada Kamis, sementara status Nathaniel belum dikonfirmasi, tetapi kabar itu belum dikonfirmasi CPJ atau polisi sehingga artikel ini menulis status CPJ sebagai status terakhir yang terverifikasi.
Versi kepolisian yang dikutip media lain menyebut dua tersangka ditahan untuk pemeriksaan atas laporan penyerangan dan pelemparan batu, tetapi pernyataan itu bukan konfirmasi pembebasan atau dakwaan.
CPJ juga menyatakan sangat khawatir atas pelanggaran terhadap jurnalis selama penggerebekan pekan pertama, termasuk melukai seorang jurnalis, menahan reporter secara singkat, menembakkan gas air mata ke arah jurnalis, dan mengarahkan laser ke area berkumpulnya pers.
Dua jurnalis berbasis Hebron, pekerja lepas Musab Qafesha dan kepala Radio Fourth Riad Khamiss, ditahan tentara Israel selama beberapa jam pada Sabtu 24 Oktober, dan Qafesha sebelumnya ditahan pada Oktober 2023 dan dibebaskan setahun kemudian sesudah kehilangan 45 kilogram selama penahanan itu.
Jurnalis lokal Sohaib Ewiwe merekam gas air mata ditembakkan ke arah jurnalis yang meliput penggerebekan, beberapa jurnalis mengalami sesak napas berat, dan juru kamera Al Jazeera Louay Amro terkena peluru karet di tangan sehingga memar, menurut CPJ.
Christine Rinawi dan Ali al-Diwani dari jaringan Al-Araby dihalangi seorang pemukim dekat Hebron pada Jumat 23 Oktober, dan keduanya melaporkan orang itu melontarkan hinaan rasial dan mencoba mengganggu peliputan mereka.
Tentara Israel menggerebek kantor Al-Ghad TV di Hebron pada Sabtu, kanal itu menuduh tentara mengubah kantornya menjadi barak militer, dan dua hari kemudian pasukan Israel mencegat kru berita kanal itu, menurut CPJ.
Laporan media yang dikutip CPJ menyebut sumber tentara Israel anonim menuduh fotografer Agence France-Presse (AFP) Hazem Bader mengetahui lebih dulu soal serangan itu, tetapi polisi Israel membantah laporan itu dan Asosiasi Pers Asing menyebut tuduhan itu sepenuhnya tidak benar dan membahayakan jurnalis.
Dalam 2026 saja, CPJ meninjau sedikitnya 16 insiden yang melibatkan sedikitnya 35 jurnalis lokal dan internasional di Tepi Barat, berupa serangan fisik, pelecehan, obstruksi, dan intimidasi, dengan insiden terbaru melibatkan fotojurnalis Amerika Serikat Heidi Levine.
Sekolah tutup, siswa beralih jarak jauh
Lockdown militer Israel atas Hebron memaksa penutupan semua 691 sekolah di kegubernuran itu dan mengganggu pendidikan sekitar 251.000 siswa, menurut organisasi kemanusiaan anak Save the Children 26 Oktober, yang mengutip Klaster Pendidikan yang dipimpin bersama Save the Children dan UNICEF.
Antara 1 September dan 20 Oktober 2026, Klaster Pendidikan mendokumentasikan sekitar 174 insiden terkait pendidikan yang memengaruhi 140 sekolah dan berdampak langsung pada 24.500 siswa, naik 121 persen dibanding sekitar 11.100 siswa setahun sebelumnya.
Siswa kehilangan lebih dari 875 jam sekolah selama periode itu, dibanding sekitar 174 jam pada periode yang sama tahun 2025, naik lebih dari 400 persen, menurut Save the Children.
Save the Children mengutip WAFA yang mengutip data Palestina dan PBB bahwa 942 pos pemeriksaan, titik penutupan, dan penghalang fisik beroperasi di seluruh Tepi Barat, membentang sekitar 107,7 kilometer, dan angka itu adalah atribusi berlapis, bukan hitungan independen.
Direktur Regional Save the Children Ahmad Alhendawi menyatakan sekolah dan rute menuju sekolah harus bebas dari bahaya, dan otoritas Israel mengunci seluruh komunitas, memerintahkan keluarga keluar dari rumah lewat pengeras suara di tengah malam, dan memaksa anak-anak melarikan diri tanpa sempat mengumpulkan barang mereka.
Penahanan, isolasi Masafer Yatta, dan posisi pihak
Palestinian Prisoners' Society melaporkan sedikitnya 110 orang ditahan di Kegubernuran Hebron sejak penggerebekan dimulai, termasuk tiga perempuan dan tujuh anak, menurut naskah Al Jazeera yang dikutip ulang pada 29 Oktober.
Angka itu bertanggal lebih baru dan berlingkup kegubernuran, sehingga berbeda dari angka akhir pekan pertama, yaitu sekitar 40 versi militer dan sekitar 70 versi Palestinian Prisoners' Society, dan ketiganya tidak boleh digabung menjadi satu total.
Pasukan Israel mengisolasi 12 desa dan dusun di kawasan Masafer Yatta di selatan, sehingga warga dan petani terputus dari pusat kota dan pasar, dan puluhan pasien yang membutuhkan perawatan medis harian tidak dapat mencapai rumah sakit, menurut naskah yang sama.
Pemukim mencabut lebih dari 200 pohon buah, menghancurkan sumur air dan fasilitas pertanian di timur Hebron, dan menghalangi petani memanen zaitun, menurut WAFA lewat naskah yang sama.
Rekaman menunjukkan tentara Israel memukuli dan melukai Hijazi Shawer, pedagang dan pemimpin komunitas Palestina berusia 70 tahun, dan pasukan Israel menembakkan tabung gas air mata ke Rumah Sakit Al-Ahli di Hebron sehingga menimbulkan kepanikan di antara pasien dan staf, menurut naskah yang sama.
Hebron menyumbang sekitar 40 persen output industri Palestina dan 30 persen ekspor, menurut naskah yang sama, dan angka itu adalah klaim naskah tersebut, bukan data yang diverifikasi independen dalam riset yang mendasari artikel ini.
Pejabat Palestina menuduh Netanyahu dan pemerintah sayap kanannya mengeksploitasi operasi itu untuk mengamankan suara pemukim sebelum pemilu Israel Selasa 27 Oktober, dan tuduhan motif pemilu itu adalah tuduhan pejabat Palestina, bukan temuan independen.
Organisasi hak asasi manusia Palestina Al-Haq menyatakan pengepungan Hebron melanggar hukum internasional dan merupakan kejahatan internasional, sementara organisasi non-pemerintah Israel B'Tselem menyatakan operasi itu tidak ada hubungannya dengan keamanan dan merupakan tindakan hukuman kolektif, menurut naskah yang sama.
Roland Friedrich dari UNRWA menyebut perkembangan itu membawa gema mengkhawatirkan dari pemindahan massal di Tepi Barat utara pada awal 2025, di mana lebih dari 34.000 pengungsi Palestina dari kamp Jenin, Tulkarem, dan Nur Shams terusir paksa lebih dari setahun kemudian, menurut naskah yang sama.
Muhammed Shehada dari Euro-Med Human Rights Monitor mengatakan kepada Al Jazeera bahwa hukuman kolektif sebagai alat penangkal telah mencapai level yang belum pernah terjadi, dan analisis itu menyebut tujuannya adalah memajukan aneksasi de facto di Tepi Barat dengan membuat hidup menjadi mustahil.
Global Centre for the Responsibility to Protect, lewat Atrocity Alert No. 500 yang dikutip lewat ReliefWeb, mencatat juru bicara OHCHR Mayy El Sheikh menyebut lockdown itu mengikuti pola hukuman kolektif.
Peringatan itu juga mencatat sedikitnya 160 serangan terkait panen zaitun dalam dua pekan pertama Oktober saja, menurut dokumentasi PBB yang dikutip peringatan tersebut.
Belum ada pengumuman resmi kapan lockdown berakhir, menurut NewsOne USA 29 Oktober, yang menulis pejabat belum mengumumkan kapan langkah keras itu akan berakhir dan warga menunggu kabar dari otoritas militer dan lokal.
Penutupan Hebron sejak 23 Oktober ini berbeda dari penutupan perlintasan Tepi Barat pada hari pemilu, dan keduanya tidak boleh dicampur menjadi satu penutupan.
Read More
Related Posts
Timur TengahTimur Tengah • 30 Oktober 2026
Teheran Sebut Gagasan Qatar Tidak Dapat Diterima, Mediator Sebut Draf Sedang Dipertimbangkan
Timur TengahTimur Tengah • 29 Oktober 2026
Ras Tanura Masih Tanpa Konfirmasi, Pencegatan Meluas ke Taif lalu Kembali ke Timur
Komentar
Memuat komentar…



















