Ukuran huruf:
Kemlu: 49.000 Jamaah Umrah Indonesia Aman, Kemenhaj Imbau Pilih Penerbangan Langsung ke Jeddah dan Madinah
Redaksi • 26 Oktober 2026 • 0 Views

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan 49.000 jamaah umrah Indonesia yang berada di Arab Saudi dalam keadaan aman, berdasarkan taklimat media di Jakarta pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Aman di sini bukan berarti tanpa gangguan sama sekali. Dalam taklimat yang sama, Kemlu menyebut penerbangan di Bandara Jeddah dan Madinah sudah kembali beroperasi normal, dengan tingkat pembatalan 7 persen dan keterlambatan 11 persen di kedua bandara itu.
Yang baru sejak pernyataan itu adalah imbauan penerbangan langsung yang kini terverifikasi. Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, pada Jumat, 23 Oktober 2026, mengimbau jamaah memilih maskapai yang terbang langsung ke Madinah dan Jeddah, bukan yang transit.
“Saat ini kita mengimbau jamaah agar memilih maskapai yang terbang direct ke Madinah dan Jeddah. Bukan maskapai yang transit,” kata Dahnil, seperti dikutip Fajarasia.id.
Dahnil juga meminta jamaah yang sudah berada di Arab Saudi tetap fokus beribadah di Makkah dan Madinah, tanpa perjalanan wisata ke luar kedua kota itu. Menurut Dahnil, otoritas Arab Saudi menyatakan penerbangan dan ibadah di Makkah dan Madinah aman dan terkendali.
Versi resmi: Menhaj dan KJRI Jeddah
Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan), menyatakan perjalanan umrah berjalan lancar dan aman. Ia ditemui di Jogja Expo Center (JEC), Bantul, Jumat sore, 23 Oktober 2026.
Menurut Gus Irfan, jamaah penerbangan langsung sejauh ini tidak melaporkan masalah berarti. Sebagian penumpang penerbangan transit mengalami keterlambatan, tetapi dinilai tidak terlalu signifikan dan tidak mengganggu perjalanan.
Laporan pada Sabtu, 24 Oktober 2026, mengulang isi pernyataan yang sama. Kemenhaj, kata Gus Irfan, berkomunikasi setiap hari dengan Kemlu, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh, dan KJRI Jeddah.
Personel KJRI Jeddah disiagakan 24 jam di bandara untuk memantau kelancaran layanan penerbangan dan mendampingi jamaah Indonesia yang terdampak. Kemlu juga menyatakan warga negara Indonesia, termasuk pekerja migran Indonesia yang tinggal di Arab Saudi, dalam keadaan aman.
Latar: serangan berlanjut sampai Riyadh
Serangan ke wilayah Saudi sendiri belum reda. Koalisi pimpinan Saudi pada Minggu, 25 Oktober 2026, menyatakan pertahanan udara mencegat dan menghancurkan rudal balistik Houthi menuju Riyadh, setelah sebelumnya mencegat drone di wilayah Riyadh pada Sabtu malam.
Pertahanan Sipil Saudi mengeluarkan peringatan dini untuk Riyadh lewat Platform Peringatan Dini Nasional. Pada hari yang sama, koalisi juga melaporkan pencegatan rudal jelajah menuju Khamis Mushait dan 10 rudal balistik menuju Wilayah Selatan.
Serpihan dari dua rudal yang dicegat melukai dua orang dan merusak tiga rumah dan tujuh kendaraan di Khamis Mushait dan Ahad Rafidah, menurut Pertahanan Sipil Saudi yang dikutip agregator kronologi.
Tidak ada laporan korban atau kerusakan dari pencegatan Riyadh 25 Oktober itu dalam pindai paket ini.
Serangan itu menyasar Riyadh, bukan Jeddah atau Madinah. Tidak ada laporan serangan ke bandara Jeddah atau Madinah dalam pindai ini, dan pencegatan drone di wilayah Madinah pada 22 Oktober bukan serangan ke Bandara Madinah.
Pada 25 Oktober, Terminal 1 dan 2 Bandara King Khalid, Riyadh, dibuka kembali untuk penerbangan domestik dan penerbangan internasional maskapai nasional dari terminal yang ditentukan. Riyadh bukan gerbang utama umrah Indonesia, sehingga pembukaan ini tidak sama dengan normalnya penerbangan transit Teluk.
Koreksi: dua WNI luka ringan, bukan jamaah umrah
Tidak ada korban di kalangan jamaah umrah Indonesia dalam serangan-serangan bandara Saudi yang ditemukan dalam pindai ini. Namun, dua WNI pemegang izin tinggal tetap di Arab Saudi, RM (45) dan ET (32), luka ringan dalam serangan di Bandara Raja Khalid, Riyadh, pada 11 Oktober 2026.
Keduanya sudah diperbolehkan pulang pada hari yang sama, 11 Oktober 2026. “Mereka bukan jamaah umrah,” kata Heni Hamidah, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kemlu, seperti dikutip Investor.id pada 15 Oktober 2026.
Suara terdampak: pembatalan dari Indonesia
Dampak gangguan penerbangan juga dirasakan dari Indonesia. Ketiga angka berikut menyangkut pembatalan atau penundaan keberangkatan dari Indonesia pada tanggal yang berbeda, bukan jamaah yang tertahan di Arab Saudi, dan ketiganya tidak dijumlahkan.
Sebanyak 53 calon jamaah umrah Makassar membatalkan keberangkatan pada Senin pagi, 12 Oktober 2026, karena penerbangan lanjutan MH158 Kuala Lumpur-Madinah dibatalkan. Penerbangan awal MH846 Makassar-Kuala Lumpur beroperasi normal dengan 83 penumpang, terdiri dari 53 jamaah umrah dan 30 penumpang reguler.
Sekitar 400 jamaah umrah asal Kabupaten Tangerang terdampak pembatalan atau penundaan penerbangan transit pada 14 Oktober 2026. Angka itu dinamis dan dapat berubah, menurut Kepala Kantor Kemenhaj Kabupaten Tangerang, Abdullah Hasyim.
Lebih dari 100 jamaah umrah asal Lombok terdampak pada 13 Oktober 2026, sebagian menjadwalkan ulang dan sebagian membatalkan sementara, menurut ketua AMPHURI Bali Nusra, H. Zamroni.
Sebanyak 51 jamaah yang sudah di Denpasar kembali ke Lombok dan menjadwalkan ulang ke November. Sebanyak 45 jamaah yang sudah tiba di Dubai menginap satu malam tambahan menunggu penerbangan lanjutan ke Jeddah.
Yang masih belum diketahui
Sampai pindai 26 Oktober pagi, tidak ditemukan angka resmi jamaah warga negara Indonesia yang masih tertahan, baik jumlahnya, kotanya, maupun penanganannya.
Tidak ditemukan pula pengumuman resmi maskapai transit soal beroperasi kembali sesudah 24 Oktober, dan tidak ditemukan pernyataan resmi RI yang baru pada 25 sampai 26 Oktober.
Sinyal dari blog perjalanan menyebut pemulihan parsial Emirates dan menyebut restart Etihad pada 25 Oktober tidak dijamin, tetapi keduanya bukan pengumuman resmi maskapai.
Panduan praktis sebelum berangkat
Bagi jamaah yang hendak berangkat, Dahnil mengimbau memilih penerbangan langsung ke Jeddah dan Madinah. Jamaah juga diminta memeriksa status penerbangan ke maskapai dan biro perjalanannya sebelum berangkat, karena situasi masih berkembang.
Periksa pula terminal keberangkatan di Jeddah. North Terminal Bandara King Abdulaziz ditutup penuh sejak 17 Oktober 2026 dan penerbangannya pindah ke Terminal 4 dan Terminal Haji. Penutupan itu adalah proyek bandara yang berjalan bertahap sejak 27 September, bukan akibat serangan.
Simpan nomor hotline KBRI Riyadh +966 569173990 dan KJRI Jeddah +966 503609667, yang disampaikan Kemlu pada 15 Oktober 2026. KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah tetap beroperasi untuk pelayanan kekonsuleran dan pelindungan warga negara Indonesia.
Keberangkatan tetap berjalan pada 24 sampai 25 Oktober lewat rute transit Asia Tenggara. Sebanyak 125 jamaah Travelataya dilepas dengan rute Batam-Kuala Lumpur-Jeddah, dan 45 jamaah Raphita berangkat via Singapura menuju Jeddah. Keduanya adalah sinyal keberangkatan tetap berjalan, bukan bukti penerbangan transit Teluk sudah normal.
“Mudah-mudahan tetap lancar semuanya,” kata Gus Irfan, seperti dikutip News Satu pada 24 Oktober 2026, dalam laporan yang mengulang pernyataan 23 Oktober.
Artikel ini menggambarkan keadaan per Senin pagi, 26 Oktober 2026, berdasarkan pernyataan resmi RI terbaru yang terverifikasi.
Read More
Related Posts
NasionalNasional • 26 Oktober 2026
Prihatin OTT KPK di BNPB, Forum PRB DIY Usulkan 5 Pembenahan Sistem Kebencanaan
NasionalNasional • 25 Oktober 2026
Kemlu: 49.000 Jamaah Umrah Indonesia di Saudi Aman, Jeddah dan Madinah Kembali Normal
NasionalNasional • 5 April 2026
Indonesia Istirahatkan Prajurit TNI yang Gugur dalam Tugas Perdamaian di Lebanon
Komentar
Memuat komentar…





















