
Memuat…

Redaksi • 25 Oktober 2026 • 0 Views

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan 49.000 jamaah umrah Indonesia yang berada di Arab Saudi dalam keadaan aman, di tengah serangan ke sejumlah bandara Saudi dalam beberapa pekan terakhir.
Pernyataan itu disampaikan Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri, Heni Hamidah, dalam taklimat media di Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026.
"Saat ini ada 49.000 jamaah umrah di Arab Saudi, dan semuanya aman," kata Heni Hamidah, seperti dikutip ANTARA.
Aman di sini bukan berarti tanpa gangguan sama sekali. Dalam taklimat yang sama, Kemlu menyebut penerbangan di Bandara Jeddah dan Madinah sudah kembali beroperasi normal, dengan tingkat pembatalan 7 persen dan keterlambatan 11 persen di kedua bandara itu.
Personel Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah pun disiagakan 24 jam di bandara untuk memantau kelancaran layanan penerbangan dan mendampingi jamaah Indonesia yang terdampak. Kemlu juga menyatakan warga negara Indonesia, termasuk pekerja migran Indonesia yang tinggal di Arab Saudi, dalam keadaan aman.
Serangan ke bandara Saudi menjadi latar pernyataan itu. Pada 10 dan 11 Oktober 2026, Bandara King Khalid di Riyadh diserang. Kementerian Haji dan Umrah memastikan tidak ada jamaah Indonesia yang menjadi korban serangan di bandara itu, menurut data Kemenhaj yang dikutip Tribun-Video.
Pada 21 Oktober 2026, serangan drone menyasar Bandara King Fahd di Dammam.
Otoritas penerbangan sipil Saudi (GACA) menyebut serangan itu menewaskan 2 orang, yaitu 1 warga Saudi dan 1 warga India, serta melukai 8 orang, yaitu 1 warga Saudi, 2 warga India, 2 warga Yaman, 2 warga Bangladesh, dan 1 warga Nepal.
Tidak ada warga negara Indonesia dalam daftar korban yang dilaporkan itu.
Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan), menegaskan perjalanan umrah warga negara Indonesia berjalan lancar dan aman. Ia ditemui di Jogja Expo Center (JEC), Bantul, Jumat sore, 23 Oktober 2026.
"Semoga semuanya terus berjalan lancar," kata Gus Irfan, seperti dikutip ANTARA.
Menurut Gus Irfan, jamaah dengan penerbangan langsung sejauh ini tidak melaporkan masalah berarti. Sebagian penumpang penerbangan transit mengalami keterlambatan, tetapi dinilai biasa dan tidak mengganggu perjalanan. Laporan terbaru yang diterimanya menyebut semuanya berjalan lancar, terutama penerbangan langsung tanpa singgah.
Kemenhaj, kata Gus Irfan, berkomunikasi setiap hari dengan Kemlu, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh, dan KJRI Jeddah. Bila ada perkembangan yang mengkhawatirkan, perwakilan Indonesia akan menginformasikan. Sehari sebelumnya, Gus Irfan bertemu Duta Besar Arab Saudi.
Menurut Duta Besar itu, umrah berjalan seperti biasa karena Makkah, Madinah, dan Jeddah tetap tenang.
"Kami berkomunikasi setiap hari dengan Kementerian Luar Negeri, Kedutaan Besar Indonesia di Riyadh, dan Konsulat Jenderal Indonesia di Jeddah," kata Gus Irfan.
Sejumlah maskapai transit tercatat menangguhkan atau mengurangi layanan ke Riyadh, Dammam, dan Jeddah sampai 24 Oktober 2026, menurut artikel 23 Oktober yang bersumber ke CNBC Indonesia.
Pindai 25 Oktober pagi belum menemukan pembaruan sesudah tanggal itu, sehingga status maskapai-maskapai tersebut sesudah 24 Oktober tidak ditulis dalam artikel ini.
Dampak gangguan penerbangan juga dirasakan dari Indonesia. Sebanyak 53 calon jamaah umrah Makassar membatalkan keberangkatan pada Senin pagi, 12 Oktober 2026, di Bandara Sultan Hasanuddin, karena serangan ke Bandara King Khalid di Riyadh. Jadwal penerbangan berikutnya belum terkonfirmasi pada saat itu.
Angka 53 ini adalah calon jamaah yang membatalkan keberangkatan dari Indonesia, bukan jamaah yang tertahan di Arab Saudi.
Asosiasi penyelenggara umrah (Amphuri) menyatakan keberangkatan dan kepulangan jamaah umrah tetap berjalan, meski sebagian mengalami kesulitan perjalanan. Pernyataan itu berasal dari pertengahan Oktober 2026, bukan dari pekan 20 sampai 25 Oktober.
Juru Bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha, pada pertengahan Oktober mengimbau jamaah umrah Indonesia tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan. Jamaah di Arab Saudi diminta fokus beribadah, mematuhi arahan otoritas setempat, dan terus berkoordinasi dengan biro perjalanan.
Kemenhaj pada saat itu juga menyatakan tidak ada jamaah Indonesia yang bepergian lewat Bandara Riyadh, sehingga penutupan bandara itu tidak mengganggu arus penerbangan jamaah dari Indonesia.
Sampai 25 Oktober pagi, tidak ditemukan angka resmi jamaah warga negara Indonesia yang masih tertahan, baik jumlahnya, kotanya, maupun penanganannya. Jamaah yang hendak berangkat diminta memeriksa status penerbangan ke maskapai dan biro perjalanannya sebelum berangkat, karena situasi masih berkembang.
"Saya bertemu Duta Besar Arab Saudi kemarin, dan perjalanan umrah berjalan seperti biasa. Keadaannya baik karena Makkah, Madinah, dan Jeddah tetap tenang," kata Gus Irfan.
NasionalNasional • 26 Oktober 2026
NasionalNasional • 5 April 2026
Memuat komentar…
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!