Ukuran huruf:
Yordania dan Suriah Bentuk Komite Bersama Usai Serangan Gereja dan Serangan Balasan, Korban dan Koordinasi Masih Disengketakan
Redaksi • 29 Oktober 2026 • 1 Views

AMMAN/DAMASKUS
Yordania dan Suriah sepakat membentuk komite keamanan bersama pada 28 Oktober 2026, dan perlintasan Nassib dibuka kembali pada Rabu pagi itu, setelah lima hari krisis yang bermula dari serangan ke gereja di Karak dan berlanjut ke serangan udara lintas perbatasan.
Namun kesepakatan itu belum menjawab tiga sengketa yang menyertai rangkaian ini: jumlah korban sipil di Suriah, apakah serangan Yordania dikoordinasikan dengan Damaskus, dan apakah ada klaim tanggung jawab yang terkonfirmasi atas serangan gereja.
Pernyataan bersama kedua kementerian luar negeri, yang dibawa kantor berita Suriah SANA pada Rabu dini hari 28 Oktober, menyatakan komite itu akan memeriksa rincian dan dampak serangan, mengembangkan koordinasi lapangan dan intelijen, serta melindungi warga sipil.
Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi menyampaikan penyesalan mendalam atas kematian sipil dan menekankan penghormatan penuh Yordania terhadap kedaulatan dan keamanan Suriah, menurut pernyataan bersama itu.
Para menteri juga menekankan kerja sama melawan terorisme serta penyelundupan narkoba dan senjata lintas perbatasan, menurut kantor berita India IANS yang mengutip pernyataan bersama itu.
Perlintasan Nassib, satu-satunya perlintasan Yordania dengan Suriah yang terbuka untuk penumpang dan barang, dibuka kembali pada Rabu pagi 28 Oktober dengan lalu lintas kembali normal, menurut SANA.
Namun tidak ada sumber yang diakses riset ini yang mengumumkan susunan anggota komite, tanggal rapat pertamanya, atau hasil apa pun dari komite itu, sehingga komite tersebut sejauh ini adalah kesepakatan untuk dibentuk, bukan badan yang sudah terbukti bekerja.
Sampai riset ini ditutup pada pagi 29 Oktober waktu Indonesia tengah, tidak ditemukan perkembangan baru bertanggal 29 Oktober atas rangkaian ini, dan tidak ditemukan pula reaksi Amerika Serikat, Liga Arab, atau Dewan Keamanan PBB atas serangan Yordania.
Babak pertama: serangan gereja Karak, 23 Oktober
Babak pertama rangkaian ini terjadi pada Jumat siang 23 Oktober 2026, ketika orang-orang bersenjata menembaki para pelayat di Gereja Ortodoks Yunani St. George di desa Hamoud, Kegubernuran Karak, Yordania selatan, saat sebuah pemakaman berlangsung.
Jumlah pelayat di dalam dan di sekitar gereja dilaporkan antara 150 sampai 200 orang, menurut laporan yang mengutip berbagai media, dan identitas jenazah yang pemakamannya sedang berlangsung tidak disebut dalam sumber yang diakses riset ini.
Saksi Saed al-Halaseh kepada kantor berita Associated Press (AP) menyebut tiga pria bertopeng bersenjata otomatis menembak ke arah orang-orang di luar gereja, lalu kembali menembak ke arah korban yang sudah jatuh, kemudian menembak fasad gereja.
Rekaman televisi negara yang dikutip berbagai media memperlihatkan tiga pria bersenjata, dua memegang pistol dan satu memegang senapan semi-otomatis, sebelum berlari ke arah gereja, sementara satu kesaksian tangan kedua menyebut sedikitnya empat penyerang.
Otoritas Yordania tidak mengonfirmasi jumlah penyerang, dan penangkapan tiga orang pada 26 Oktober tidak membuktikan jumlah penyerang adalah tiga, menurut catatan riset ini.
Pemerintah Yordania menyebut serangan itu aksi teroris, dan Raja Abdullah II memerintahkan respons “tangan besi”, menurut AP, sementara Menteri Dalam Negeri Mazen al-Faraya menyebut pelaku sebagai ekstremis.
Korban tewas yang dilaporkan berkembang dari 7 orang pada laporan awal 23 Oktober menjadi 9 orang sejak Sabtu 24 Oktober, menurut AP, setelah sempat dilaporkan 8 orang pada laporan perantara.
Korban luka ditulis sebagai rentang, bukan satu angka: Direktorat Keamanan Publik melaporkan 34 luka pada pernyataan awal, AP melaporkan hampir 40 luka, dan NPR yang mengutip otoritas melaporkan 40 luka.
Motif serangan dinyatakan belum diketahui, dan sampai 24 Oktober AP menyatakan belum ada klaim tanggung jawab dan belum ada kelompok bersenjata yang dituduh, sementara pernyataan resmi Yordania pada 23 sampai 24 Oktober juga tidak menuduh satu kelompok pun secara publik.
Pada hari yang sama, Patriarkat Ortodoks Yunani Yerusalem mengecam serangan itu, dan para Patriark dan Kepala Gereja di Yerusalem menyebutnya pelanggaran berat terhadap Tuhan dan kemanusiaan.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam kekerasan terhadap warga sipil di tempat ibadah, menurut pernyataan Kementerian Kerja Sama Internasional Afrika Selatan yang mengutip pernyataan Guterres.
Delapan korban dimakamkan di Karak pada Minggu 25 Oktober dalam pemakaman yang dihadiri ribuan pelayat, sementara total tewas yang dilaporkan adalah sembilan, dan sumber yang diakses tidak menjelaskan selisih satu ini.
Babak kedua: penangkapan dan serangan balasan, 26 Oktober
Pada fajar Senin 26 Oktober, tiga tersangka ditangkap dalam baku tembak di al-Jadeeda, dekat Hamoud, setelah bersembunyi di sebuah rumah kosong, dan ketiganya luka sementara tidak ada personel keamanan yang luka.
Kantor Raja Abdullah II menamai tersangka pada 26 Oktober sebagai Hazaa Zidan Thneibat (33), Mashaal Zidan Thneibat (32), dan Ahmad Sami Thneibat (31), dengan catatan transliterasi nama keluarga itu bervariasi pada laporan berbahasa Arab.
Arab News dan Al Jazeera menggambarkan ketiganya sebagai dua bersaudara dan ipar mereka.
Pada pagi Senin yang sama, pejabat keamanan Yordania menyebut tersangka tidak menunjukkan tanda hubungan dengan pihak luar dan penyelidikan tidak menemukan indikasi hubungan tersangka dengan sel lain, menurut blog live Crisis.zone yang mengutip pernyataan pejabat itu.
Pada malam harinya, Angkatan Udara Yordania melancarkan serangan ke Suriah selatan dalam operasi yang dinamai Yordania Jordanian Deterrence-Hmoud, yang dinyatakan sebagai balasan atas serangan gereja dan menargetkan persembunyian organisasi teroris.
Pernyataan Angkatan Bersenjata Yordania lewat kantor berita negara Petra menyatakan operasi itu dilakukan dalam koordinasi dengan pemerintah Suriah, dan menyatakan pelaku serangan gereja terhubung dengan organisasi yang ditargetkan di Suriah selatan.
Pernyataan awal itu tidak menyebut nama organisasi, tidak memberi angka korban, dan tidak memberi lokasi persis, sementara Reuters pada 26 Oktober mencatat koordinasi belum jelas pada saat itu dan belum ada komentar langsung dari otoritas Suriah.
Kementerian Luar Negeri Suriah lewat SANA menyatakan serangan itu dilakukan tanpa koordinasi atau pemberitahuan sebelumnya, mengecamnya sebagai pelanggaran kedaulatan, dan mengumumkan penyelidikan serta kanal komunikasi langsung dengan Amman.
Serangan itu menghantam lokasi di Daraa dan Sweida, Suriah selatan, termasuk al-Taf di wilayah al-Lajat, al-Shiyah dekat Nassib, Shuhaib di pedesaan Sweida, dan al-Muzayrib, menurut otoritas Suriah dan lembaga Women Journalists Without Chains yang mengutip otoritas itu.
Babak ketiga: sengketa korban dan penutupan Nassib, 27 Oktober
Pada Selasa 27 Oktober, angka korban sipil Suriah bergerak dan berbeda antar sumber, dan tidak satu pun versi yang terverifikasi secara independen, sementara Yordania tidak mengonfirmasi angka korban sipil apa pun dalam pernyataan publiknya.
Laporan awal Direktur Kesehatan Daraa Khaled al-Amyan kepada SANA pada 26 Oktober menyebut 5 warga sipil tewas di Daraa, termasuk perempuan, anak-anak, dan seorang pria lanjut usia, dan hitungan itu hanya mencakup Daraa, bukan total gabungan.
Pada 27 Oktober, Direktur Kesehatan Daraa yang sama memperbarui laporannya kepada SANA menjadi 7 tewas dan 3 luka, terdiri dari tiga anak, satu perempuan, dan tiga pria, dan angka 7 itu juga dilaporkan Pertahanan Sipil Suriah, Kementerian Kesehatan Suriah, dan Kementerian Darurat Suriah.
Perincian versi 7 menurut Women Journalists Without Chains yang mengutip otoritas Suriah: lima anggota satu keluarga tewas di tenda di desa al-Taf, wilayah al-Lajat.
Riyad Karad yang berusia 80 tahun tewas di pertanian di al-Shiyah dekat Nassib, dan Mutlaq Abu al-Khail yang berusia 60 tahun tewas saat rumahnya di Shuhaib, pedesaan Sweida, dihantam.
Versi ketiga berasal dari penyiar publik Yunani ERT, yang pada laporan awalnya menyebut 8 tewas dan 4 luka, kemudian pada 27 Oktober merevisi sendiri laporannya menjadi 6 tewas di Daraa dan 1 tewas di Sweida, yaitu total 7 menurut pembagian wilayahnya sendiri.
Korban luka Suriah juga berbeda antar sumber: laporan Daraa yang diperbarui menyebut 3 luka, laporan awal ERT menyebut 4 luka, dan 2 luka dari al-Muzayrib yang dipindahkan ke Rumah Sakit Tafs adalah hitungan parsial, bukan total luka.
Menteri Komunikasi Yordania Mohammad al Momani pada 27 Oktober mengumumkan perkiraan awal lebih dari 20 anggota ISIS tewas dan satu depo senjata besar hancur, menyatakan penyesalan Yordania atas kematian sipil, dan menyatakan pasukan menghindari lokasi yang menurut intelijen terdapat warga sipil.
Angka lebih dari 20 itu adalah perkiraan Yordania pada hari berikutnya, bukan isi pernyataan awal Angkatan Bersenjata, yang hanya menyebut beberapa teroris tewas dan luka tanpa angka.
Pada hari yang sama, Suriah memanggil Duta Besar Yordania Sufian al-Qudah dan menyerahkan nota protes, serta menutup perlintasan Nassib untuk hari Selasa itu bagi penumpang dan barang di kedua arah demi keselamatan pelancong dan personel.
Selama penutupan itu, otoritas memberi pengecualian kemanusiaan untuk bus peziarah Suriah yang pulang umrah dan untuk kasus medis dan kemanusiaan mendesak.
Damaskus pada 27 Oktober juga mengumumkan koordinasi langsung dengan Yordania untuk membentuk komite lapangan dan keamanan perbatasan bersama yang mendesak, sambil tetap mengecam serangan itu, dan pengumuman itu adalah pengumuman Damaskus, bukan komunike bersama.
Pada larut malam Selasa itu, Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi dan Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani menyepakati pembentukan komite keamanan bersama lewat telepon, menurut Al Jazeera dan IANS.
Babak keempat: komite bersama dan pembukaan kembali, 28 Oktober
Analisis Foundation for Defense of Democracies yang dimuat 28 Oktober mencatat protes di dekat perlintasan menurut sumber lokal Suriah, termasuk dugaan serangan terhadap kendaraan Yordania dan ancaman terhadap sopir truk, serta tuntutan seorang anggota parlemen Suriah agar Yordania meminta maaf dan memberi kompensasi.
Lembaga Women Journalists Without Chains dari Jenewa pada 28 Oktober menuntut penyelidikan independen atas kematian sipil dan menyatakan komite bersama tidak boleh menggantikan pengawasan independen dan akuntabilitas, sebuah posisi advokasi lembaga itu, bukan putusan atas peristiwa ini.
### Klaim tanggung jawab yang disengketakan
Sengketa lain yang belum selesai adalah soal klaim tanggung jawab atas serangan gereja: Al Jazeera pada 28 Oktober menulis ISIL mengambil tanggung jawab atas serangan itu, dan sejumlah media sekunder melaporkan hal yang sama.
Di sisi lain, AP pada 24 Oktober menyatakan belum ada klaim tanggung jawab, dan laporan berbasis Reuters pada 26 Oktober menyatakan tidak ada kelompok yang secara publik mengklaim tanggung jawab sampai hari Senin itu.
Arab News pada 27 Oktober menyatakan tidak ada kelompok yang dikonfirmasi bertanggung jawab, walaupun otoritas Yordania mengaitkan pelaku dengan militan yang beroperasi di seberang perbatasan di Suriah.
Sintesis Wikipedia tentang penembakan gereja Karak 2026 menyatakan pelaku muncul dalam sebuah video yang secara verbal menyatakan kesetiaan kepada ISIS, video itu tidak terverifikasi, hubungan mereka dengan organisasi itu tidak dikonfirmasi secara resmi, dan organisasi itu tidak mengklaim tanggung jawab atas serangan itu.
Dengan kata lain, sebagian media melaporkan klaim tanggung jawab ISIS, sementara kawat berita dan otoritas Yordania sampai 26 Oktober menyatakan tidak ada klaim resmi yang terkonfirmasi dan hubungan pelaku dengan kelompok itu belum ditetapkan.
Sampai 26 Oktober, otoritas menyatakan terlalu dini untuk menentukan apakah para tersangka punya hubungan dengan kelompok yang dikenal di dalam atau di luar Yordania, menurut sintesis yang sama.
Legalitas hanya sebagai posisi pihak
Penilaian atas legalitas serangan Yordania hanya tercatat sebagai posisi masing-masing pihak: Suriah menyebutnya pelanggaran kedaulatan, Yordania membingkainya sebagai kontraterorisme dan penangkal ancaman, dan Women Journalists Without Chains mempertanyakan kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional.
Tidak ada doktrin hukum spesifik yang ditemukan dalam pernyataan Yordania yang diakses riset ini, dan pembenaran yang dinyatakan Yordania adalah balasan, kontraterorisme, penangkal, ancaman yang akan segera terjadi, dan intelijen lapangan.
Yang masih terbuka setelah 28 Oktober adalah susunan dan rapat pertama komite bersama, konfirmasi atas satu versi angka korban sipil Suriah, bukti hubungan pelaku dengan kelompok di Suriah selatan, dan konfirmasi atau bantahan atas klaim tanggung jawab ISIS lewat kawat berita atau pengumuman resmi.
Read More
Related Posts
Timur TengahTimur Tengah • 29 Oktober 2026
Ras Tanura Masih Tanpa Konfirmasi, Pencegatan Meluas ke Taif lalu Kembali ke Timur
Timur TengahTimur Tengah • 29 Oktober 2026
PM Irak Kunjungi Damaskus Pertama Kali Sejak Jatuhnya Assad, Pipa Baniyas Jadi Agenda Utama
Timur TengahTimur Tengah • 29 Oktober 2026
Draf Damai Qatar ke Teheran Dilaporkan Dua Versi: Dipertimbangkan atau Ditolak
Komentar
Memuat komentar…



















