Ukuran huruf:
PM Irak Kunjungi Damaskus Pertama Kali Sejak Jatuhnya Assad, Pipa Baniyas Jadi Agenda Utama
Redaksi • 29 Oktober 2026 • 3 Views

DAMASKUS, Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi tiba di Damaskus pada Rabu, 28 Oktober 2026, dan bertemu Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa, dalam kunjungan pertama seorang perdana menteri Irak ke Suriah sejak kejatuhan Bashar al-Assad pada Desember 2024, tetapi pembicaraan itu tidak menghasilkan dokumen baru yang dilaporkan.
Menurut pernyataan Kantor Perdana Menteri Irak yang dikutip sejumlah media, kedua pihak membahas ekspor minyak Irak lewat pipa Baniyas, peningkatan perdagangan, kerja sama pertanian, kerja sama keamanan, serta penyatuan posisi atas isu regional dan internasional.
Al-Zaidi dan al-Sharaa memimpin bersama pembicaraan delegasi yang diperluas di Damaskus, menurut Shafaq News dan Iraq Business News. Media pemerintah Suriah melaporkan al-Sharaa menyambut al-Zaidi dan delegasinya di Bandara Internasional Damaskus.
Kunjungan ini merupakan kunjungan resmi pertama al-Zaidi ke Damaskus sejak ia menjabat pada 14 Mei 2026, menggantikan Mohammed Shia' al-Sudani yang menjabat dari 2022 sampai Mei 2026. Damaskus adalah pemberhentian setelah Arab Saudi dan Yordania, yang dikunjungi al-Zaidi pada 26 Oktober 2026, dalam tur regionalnya.
Nama lengkap perdana menteri itu, menurut QNA dan Syria Focus, adalah Ali Faleh Al-Zaidi.
Shafaq News menyebut al-Sharaa sebagai presiden transisional, sementara QNA, INA, dan media lain menyebutnya presiden tanpa kata transisional. Artikel ini memakai sebutan Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa.
Kapasitas yang dinyatakan dan angka lain
Pernyataan Kantor Perdana Menteri Irak menyebut pipa Baniyas dengan kapasitas ekspor hingga 2 juta barel per hari. Angka itu adalah kapasitas yang dinyatakan dalam pernyataan tersebut dan target setelah rehabilitasi menurut pemberitaan nota kesepahaman Juli 2026, bukan kapasitas operasi saat ini.
Angka lain ditulis terpisah karena berbeda cakupan. Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) menyebut kapasitas nominal lama pipa itu 700.000 barel per hari, sementara rencana jaringan Basra-Haditha pada awal September 2026 memberi perkiraan awal 1 juta barel per hari untuk cabang Haditha-Baniyas.
Pipa mangkrak, nota Juli, dan nama koridor
Pipa itu dibangun pada 1952 dan tidak beroperasi sejak 2003 setelah rusak pada awal invasi Amerika Serikat ke Irak, menurut energynews. Pemberitaan 28 Oktober tidak memberi rincian teknis, pembiayaan, maupun jadwal pelaksanaan proyek rehabilitasi itu.
Dokumen yang terdokumentasi adalah dua nota kesepahaman yang ditandatangani di Washington pada 17 Juli 2026. Nota pertama, antara Syrian Petroleum Company dan Basra Oil Company, menyangkut rehabilitasi pipa Haditha-Baniyas.
Nota kedua, antara Syrian Petroleum Company dan konsorsium Chevron, UCC Holding, dan TI Capital, menyangkut studi kelayakan teknis dan finansial serta kerangka pelaksanaan. Konsorsium itu baru pada tahap studi, bukan tahap pembangunan.
Nama pipa ditulis sesuai sumbernya masing-masing. Shafaq News pra-kunjungan dan judul Welat TV memakai Kirkuk-Baniyas, sementara teks nota kesepahaman Juli 2026 menyebut Haditha-Baniyas. Welat TV sendiri menjelaskan pipa Haditha-Baniyas itu terkait secara historis dengan pipa Kirkuk-Baniyas.
Pada 2025, al-Sharaa tidak menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab di Baghdad dan mengirim menteri luar negerinya, setelah pejabat Irak menentang kunjungannya, menurut energynews.
Kedua pemimpin sebelumnya bertemu pada September 2026 di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Pada 25 September 2026, pengiriman bensin pertama lewat darat via Pelabuhan Baniyas berangkat menuju Irak, sehingga koridor energi kedua negara menjadi dua arah.
Al Jazeera melaporkan Irak belakangan mulai mengekspor minyak dalam jumlah terbatas lewat Suriah setelah pecahnya perang yang dipimpin Amerika Serikat atas Iran.
Perbatasan dan tahanan: apa yang dikatakan sehari sebelumnya
Sehari sebelum kunjungan, dalam wawancara yang ditayangkan kanal televisi Irak Dijlah pada 27 Oktober 2026, al-Sharaa menyebut perbatasan dengan Irak sepenuhnya aman berkat koordinasi erat kedua negara, dan menyambut kunjungan al-Zaidi.
Dalam wawancara yang sama, al-Sharaa menyebut sekitar 3.000 tahanan Suriah di antara yang dipindahkan ke Irak, sebagian disebutnya tidak ada hubungan dengan ISIS, dengan upaya klasifikasi dan penjajakan pemulangan yang sedang berjalan.
Angka itu berbeda cakupan dengan angka 5.700 tahanan dari semua kewarganegaraan yang disebut energynews dipindahkan Amerika Serikat dari Suriah ke Irak pada Februari.
Klaim satu sumber soal keamanan dan minoritas
Satu sumber politik tak bernama mengatakan kepada Shafaq News bahwa kunjungan itu menghasilkan pemahaman soal keamanan perbatasan, termasuk tentara Irak mengamankan dan memantau ruas perbatasan yang belum selesai dibangun penghalang keamanannya.
Firas al-Mislmawi, juru bicara koalisi yang dipimpin mantan Perdana Menteri al-Sudani, mengatakan kepada Shafaq News bahwa pemahaman itu juga mencakup perlindungan minoritas Syiah Suriah dan pengamanan situs suci Syiah.
Keduanya belum merupakan kesepakatan yang dikonfirmasi kedua pemerintah.
Shafaq News memberitakan al-Zaidi menyumbang 10 juta dolar dari dana pribadinya, 5 juta dolar untuk Kuil Sayyida Zainab dan 5 juta dolar untuk Masjid Umayyah, menurut kantor medianya. Al-Sharaa menyebut Suriah akan segera menerima peziarah Irak di Kuil Sayyida Zainab dan situs lain.
Menurut pernyataan Kantor Perdana Menteri Irak, pembicaraan itu juga menyangkut perdamaian dan stabilitas kawasan.
Sampai 29 Oktober 2026, tidak ditemukan perkembangan baru atas kunjungan ini selain rekap dan penilaian lanjutan.
baniyas
Read More
Related Posts
Timur TengahTimur Tengah • 29 Oktober 2026
Ras Tanura Masih Tanpa Konfirmasi, Pencegatan Meluas ke Taif lalu Kembali ke Timur
Timur TengahTimur Tengah • 29 Oktober 2026
Draf Damai Qatar ke Teheran Dilaporkan Dua Versi: Dipertimbangkan atau Ditolak
Komentar
Memuat komentar…




















