Ukuran huruf:
Sunni dan Syiah: Satu Pertanyaan Suksesi 1.400 Tahun Lalu yang Masih Membentuk Timur Tengah
Redaksi • 28 Oktober 2026 • 0 Views

Mengapa Dua Kata Ini Selalu Muncul dalam Berita
Mengapa berita perang di Timur Tengah hampir selalu menyebut Sunni dan Syiah?
Jawabannya bermula dari satu pertanyaan pada 632 Masehi: siapa yang memimpin komunitas Muslim setelah Nabi Muhammad wafat?
Perpecahan itu awalnya soal politik, bukan soal akidah yang sudah jadi. Menurut sejarawan Dr. Carool Kersten, perpecahan terjadi sangat awal, dan perbedaan teologis berkembang dari situ.
Hari ini, kedua label itu muncul dalam berita tentang Yaman, Suriah, Lebanon, Bahrain, dan Irak. Memahaminya membantu pembaca membedakan identitas mazhab dari kepentingan negara yang bertikai.
Kedua tradisi berbagi fondasi yang sama: Al-Qur'an, kenabian Muhammad sebagai nabi terakhir, rukun Islam, dan ibadah haji. Karena itu, keduanya tidak tepat disebut sebagai dua agama yang berbeda.
Akar: Suksesi 632 dan Karbala 680
Nabi Muhammad wafat di Madinah pada 632 Masehi tanpa meninggalkan pengaturan pengganti yang tidak diperselisihkan. Pertanyaan yang langsung muncul adalah siapa yang memimpin umat sesudahnya, dan atas dasar apa.
Jawaban pertama: kepemimpinan jatuh kepada tokoh yang layak, dipilih lewat musyawarah dan konsensus komunitas. Atas dasar ini, Abu Bakar dibaiat sebagai khalifah pertama.
Jawaban kedua: kepemimpinan sudah ditetapkan secara ilahi untuk Ali bin Abi Thalib, sepupu dan menantu Nabi, dan harus tetap berada dalam keluarga Nabi. Pendukung Ali disebut syi'at Ali, asal kata Syiah.
Pada 16 Maret 632 Masehi, dalam perjalanan pulang dari Haji Perpisahan, Nabi Muhammad berhenti di kolam Khumm dan menyampaikan khotbah. Dalam khotbah itu ia bersabda, barangsiapa yang aku adalah mawla-nya, maka Ali adalah mawla-nya.
Kata mawla dalam bahasa Arab bersifat polisemis: dapat berarti pelindung, tuan, pemimpin, atau teman, tergantung konteksnya. Perbedaan tafsir atas satu kata ini menjadi pusat perpecahan.
Umat Syiah menafsirkan khotbah itu sebagai penunjukan yang jelas atas Ali sebagai pengganti Nabi dan imam pertama. Menurut sumber-sumber Syiah, mereka yang hadir segera mengucapkan selamat kepada Ali sebagai Amir al-Mu'minin.
Umat Sunni menerima bahwa peristiwa itu terjadi dan sabda itu diucapkan, tetapi menafsirkannya sebagai penegasan atas kedudukan dan keutamaan Ali, bukan penunjukan politik sebagai pengganti.
Sementara kerabat terdekat Nabi masih mengurus jenazahnya, Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah bermusyawarah dengan para pemimpin Madinah di Saqifah. Pertemuan itu mengamankan pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah pertama.
Umat Sunni mengakui empat Khalifah yang Mendapat Petunjuk dalam urutan ini: Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Bagi Syiah, Ali adalah imam pertama, dan tiga khalifah sebelumnya tidak diakui sebagai pemimpin yang sah atas dasar penunjukan ilahi.
Fakta kronologis bahwa Abu Bakar, Umar, dan Usman memerintah sebelum Ali tidak diperselisihkan kedua pihak. Yang diperselisihkan adalah legitimasi teologisnya, bukan urutan pemerintahannya.
Setelah Usman dibunuh pada 656 Masehi, umat Islam Madinah berpaling kepada Ali sebagai khalifah keempat, dan ia menjadikan Kufah sebagai ibu kotanya. Pemerintahannya ditandai pertentangan faksi saingan, yang dikenal sebagai Fitnah Pertama.
Ali terbunuh pada 661 Masehi. Putra tertuanya, Hasan, diakui Syiah sebagai imam kedua.
Setelah Mu'awiyah I wafat pada 680 Masehi, putranya Yazid menuntut baiat dari Husain. Husain menolak, lalu berangkat menuju Kufah setelah penduduknya mengundangnya dan berjanji setia.
Dalam perjalanan, kafilah Husain dicegat dan dipaksa berkemah di Karbala. Perundingan gagal, dan pada 10 Oktober 680 Masehi, Husain terbunuh bersama sebagian besar kerabat dan sahabatnya.
Para korban Karbala secara luas dianggap martir oleh Muslim Sunni maupun Syiah. Umat Syiah memperingatinya setiap tahun dalam sepuluh hari pertama Muharram, yang berpuncak pada Hari Asyura.
Menurut Dr. Kersten, Karbala adalah momen penentu yang memisahkan Sunni dari Syiah. Penilaian itu ditulis di sini sebagai analisis sejarawan, bukan sebagai fakta yang berdiri sendiri.
Tiga Garis Imamah, Lalu Negara
Semua Syiah mengikuti garis imamah yang sama sampai imam keenam, Ja'far al-Sadiq, yang wafat pada 765 Masehi. Setelah itu, tiga garis bertahan sampai hari ini.
Twelver mengikuti dua belas imam, dari Ali sampai Muhammad al-Mahdi, imam kedua belas yang masuk ke dalam gaib sekitar 874 Masehi dan dinanti kepulangannya sebagai Mahdi. Twelver adalah cabang terbesar.
Ismailiyah mengikuti Ismail bin Ja'far, putra tertua Ja'far al-Sadiq, sebagai imam setelah ayahnya. Kelompok terbesarnya saat ini, Nizari, mengakui imam yang hidup, yang dikenal sebagai Aga Khan.
Zaidiyah mempersoalkan suksesi imam kelima Twelver, Muhammad al-Baqir, karena ia tidak bangkit melawan pemerintahan yang korup. Bagi Zaidiyah, setiap keturunan Hasan atau Husain yang bangkit melawan pemerintahan korup adalah imam.
Pada 1501, Ismail I merebut Tabriz dan menyatakan Twelver sebagai agama resmi kerajaannya, meskipun mayoritas penduduknya Sunni. Rivalitas Utsmani yang Sunni melawan Safawi yang Syiah kemudian memperdalam perpecahan menjadi identitas negara.
Pada 1979, Revolusi Iran melahirkan Republik Islam Iran yang didasarkan pada Twelver. Doktrin wilayat al-faqih, perwalian ahli fikih, yang dikembangkan Khomeini dalam kuliah Najaf 1970, dimasukkan dalam bentuk yang dimodifikasi ke dalam Konstitusi 1979.
Khomeini menjadi Vali-ye faqih atau Pemimpin Tertinggi pertama. Setelah wafatnya pada 1989, amandemen konstitusi menghapus persyaratan marja al-taqlid bagi Pemimpin Tertinggi, sehingga Ali Khamenei dapat mengambil peran itu.
Britannica menegaskan nuansa yang wajib dicatat: konsep perwalian ahli fikih tidak diterima oleh semua ulama Twelver, apalagi oleh semua marja. Karena itu, naskah ini tidak pernah menulisnya sebagai keyakinan seluruh Syiah.
Teologi dan Mazhab: Apa yang Sama, Apa yang Beda
Nama Sunni berasal dari Ahl al-Sunna, umat tradisi, yaitu praktik yang didasarkan pada perbuatan Nabi Muhammad dan orang-orang dekatnya. Bagi Sunni, khalifah hanyalah manusia biasa yang bertugas menjaga hukum dan ketertiban.
Tradisi Sunni menekankan sistem hukum Islam yang terkodifikasi dan kepatuhan pada empat mazhab hukum: Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali. Berbeda dengan Syiah, guru dan pemimpin agama Sunni secara historis berada di bawah kendali negara.
Doktrin sentral Twelver adalah imamah: kepemimpinan spiritual dan politik yang ditetapkan secara ilahi untuk Ali dan keturunannya. Menurut keyakinan Twelver, para imam dipandang maksum, tidak bisa salah, dan memiliki pengetahuan serta otoritas khusus untuk membimbing umat.
Mazhab fikih Twelver adalah Ja'fari, dinamai dari imam keenam Ja'far al-Sadiq. Mazhab ini berbeda dari mazhab Sunni dalam hal ketergantungan pada ijtihad, serta dalam soal warisan, pajak agama, perdagangan, dan status personal.
Kawin sementara (mut'ah) dibolehkan dalam fikih Ja'fari dan dilarang dalam fikih Sunni. Perbedaan ini ditulis di sini sebagai perbedaan hukum, bukan sebagai penilaian moral.
Sampai kembalinya Imam Tersembunyi, Twelver mencari bimbingan dari mujtahid, ulama yang sangat terlatih yang dipahami sebagai wakil Imam Tersembunyi, dan dari marja al-taqlid, ulama paling senior. Hari ini ada dua puluh orang atau lebih marja, termasuk non-Iran dan non-Arab.
Pusat ilmu Twelver berada di Najaf dan Karbala di Irak, serta Qom dan Masyhad di Iran. Britannica menegaskan tidak ada padanan paus dalam Twelver, dan ketidaksepakatan di antara ulama Twelver bukan hal yang jarang.
Ismailiyah dan Zaidiyah memiliki tradisi fikih sendiri, sehingga keliru menulis bahwa semua Syiah mengikuti fikih Ja'fari. Zaidiyah berbeda secara teologis dari Ja'fari, sehingga Houthi Yaman tidak tepat disebut cabang Twelver Iran.
Dalam Zaidisme, imam harus hadir secara fisik di tengah komunitas politik dan harus seorang sayyid, keturunan Nabi. Imamah dipahami sebagai kontrak politik, bukan garis keturunan yang dilembagakan, dan Zaidisme membolehkan khuruj, pemberontakan terhadap penguasa yang dinilai tidak adil.
Ibadi, yang sebagian besar berada di Oman dan sebagian Afrika Utara, bukan Sunni dan bukan Syiah. Ia muncul dari gerakan Khawarij awal, tetapi berkembang menjadi tradisi sendiri.
Pesan Amman, yang disampaikan di Amman pada 9 November 2004 di bawah naungan Raja Abdullah II dari Yordania, mengakui delapan mazhab fikih. Konvensi Juli 2005 yang mempertemukan 200 ulama dari lebih 50 negara menetapkan tiga poin, termasuk larangan takfir atas pengikut mazhab-mazhab itu.
Kedelapan mazhab itu adalah Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali dari Sunni; Ja'fari dan Zaidiyah dari Syiah; serta Zahiri dan Ibadi. Ibadi termasuk di dalamnya, sehingga tulisan yang menyebut Islam hanya terbagi dua harus menambahkan catatan tentang Ibadi.
Angka yang Selalu Berupa Rentang
Pew Research Center menyatakan secara eksplisit bahwa data persentase Sunni dan Syiah di banyak negara hanya perkiraan kasar, sehingga studinya menyajikan angka sebagai rentang. Naskah ini mengikuti prinsip itu: selalu rentang, selalu dengan sumber.
Tidak ada sensus resmi yang menghitung mazhab di sebagian besar negara yang dibahas di sini. Lebanon tidak mengadakan sensus resmi sejak 1932, dan Indonesia tidak menghitung mazhab dalam sensus penduduknya.
Menurut Pew, Sunni mencakup 87 sampai 90 persen Muslim dunia, sedangkan Syiah mencakup 10 sampai 13 persen. Pada 2010, Syiah diperkirakan 162 sampai 211 juta jiwa, dan diproyeksikan menjadi 219 sampai 285 juta jiwa pada 2030.
BBC memakai rentang yang berbeda, yaitu 10 sampai 15 persen untuk Syiah. Perbedaan ini dicatat berdampingan di sini, dan naskah ini memakai rentang Pew sebagai acuan utama.
Menurut Pew pada 2011, empat negara berpenduduk mayoritas Syiah adalah Iran, dengan sekitar 93 persen Muslimnya Syiah; Azerbaijan, sekitar 70 persen; Bahrain, sekitar 70 persen; dan Irak, sekitar 67 persen. Iran memiliki jumlah Muslim Syiah terbesar.
Ketiga angka terakhir itu diperselisihkan. Rujukan lain menyebut Azerbaijan antara 55 sampai 85 persen, Bahrain antara 40 sampai 70 persen, dan Irak antara 60 sampai 67 persen, sehingga naskah ini menuliskannya sebagai rentang, bukan angka tunggal.
Britannica menulis hingga 95 persen penduduk Iran adalah Twelver yang mengakuinya. Selisih dengan angka Pew berasal dari definisi yang berbeda: Pew menghitung dari populasi Muslim, sedangkan Britannica menulis dari total penduduk.
Menurut Pew pada 2011, empat negara berpenduduk mayoritas Sunni terbesar adalah Mesir, Indonesia, dan Bangladesh, yang masing-masing sekitar 99 persen Muslimnya Sunni, serta Pakistan, sekitar 87 persen.
Sebagian besar Syiah dunia, antara 68 sampai 80 persen, tinggal di hanya empat negara: Iran, Pakistan, India, dan Irak. Iran sendiri menampung lebih dari sepertiga Syiah dunia.
Di Lebanon, Statistics Lebanon memperkirakan Sunni 31,2 persen dan Syiah 32 persen dari warga negara. Rujukan lain menyebut angka berbeda, karena pembilangnya berbeda: warga negara lawan seluruh penduduk, yang mencakup pengungsi Suriah dan Palestina.
Di Yaman, Zaidiyah diperkirakan antara 30 sampai 45 persen populasi menurut sumber yang berbeda: ISPI menyebut 35 sampai 40 persen, Washington Institute sekitar 30 persen, dan IRIN sekitar 45 persen. Tidak ada sensus yang dapat diandalkan.
Di Suriah, kelompok Alawi diperkirakan antara 10 sampai 15 persen: RSIS menyebut 10 sampai 13 persen, sedangkan Berkley Center menyebut 15 persen. Sunni diperkirakan antara 70 sampai 75 persen.
Di Arab Saudi, Syiah diperkirakan antara 5 sampai 15 persen warga negara menurut sumber yang berbeda, terkonsentrasi di Provinsi Timur yang kaya minyak. Konsentrasi terbesar berada di Qatif dan sekitar setengah populasi al-Hasa.
Di Indonesia, sekitar 99 persen Muslimnya Sunni menurut Pew pada 2011. Syiah diperkirakan 1 sampai 3 juta jiwa pada 2018 dan 2019, atau 1 sampai 5 juta jiwa pada 2020 sampai 2022, menurut Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.
Rentang yang melebar itu menunjukkan ketidakpastian, bukan pertumbuhan yang terukur. Naskah ini tidak memberi label mazhab kepada organisasi atau tokoh Indonesia mana pun, karena paket ini tidak meriset hal itu.
Peta Politik: Rivalitas, Bukan Sekadar Mazhab
Council on Foreign Relations menilai perpecahan yang sudah berusia empat belas abad itu tidak menjelaskan seluruh faktor politik, ekonomi, dan geostrategis dalam konflik-konflik tersebut. Perpecahan itu menjadi satu prisma untuk memahami ketegangan yang mendasarinya, bukan penjelasan total.
Vali Nasr menggambarkan persaingan Arab Saudi dan Iran sebagai permainan jumlah nol: kedua pihak memandang perolehan pihak lain sebagai kerugian bagi dirinya sendiri. Masing-masing memandang pihak lain sebagai agresor dan dirinya sendiri sebagai pihak yang mempertahankan wilayahnya.
Pada 1979, Revolusi Iran melahirkan Republik Islam yang didasarkan pada Twelver. Arab Saudi, yang mayoritas penduduknya Sunni dan rajanya menyandang gelar Penjaga Dua Kota Suci, memandang revolusi itu sebagai ancaman terhadap tatanan monarki Teluk.
Pada 2016, Arab Saudi mengeksekusi ulama Syiah Saudi, Syekh Nimr al-Nimr. Para pengunjuk rasa Iran menyerbu kedutaan Saudi di Teheran dan konsulatnya di Masyhad, dan Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran pada Januari 2016.
Sejak April 2021, Irak menjadi penengah pembicaraan untuk memulihkan hubungan itu. Pada 10 Maret 2023, perwakilan Iran dan Arab Saudi menandatangani perjanjian di Beijing yang memulihkan hubungan diplomatik dalam waktu dua bulan.
Perjanjian Beijing memulihkan hubungan diplomatik, tetapi tidak mengakhiri persaingan di Yaman, Suriah, Lebanon, atau Irak. Perjanjian itu bukan perdamaian antara Sunni dan Syiah.
Di Irak, rezim Ba'ath yang didominasi Sunni memerintah negara yang mayoritas penduduknya Syiah, sekitar 60 sampai 67 persen. Setelah invasi Amerika Serikat pada 2003 dan jatuhnya Saddam Hussein, pemerintahan baru yang didominasi Syiah muncul pada 2005.
Kekerasan sektarian menjadi ciri periode itu, dan interaksi sosial antara Sunni dan Syiah anjlok. Politik Irak tidak dapat direduksi menjadi mazhab: pembelahan di sana juga berjalan menurut garis Arab dan Kurdi, kesukuan, dan partai.
Kota suci Syiah, Najaf dan Karbala, berada di Irak, sehingga Irak menjadi pusat ziarah dan ilmu Syiah di samping Iran. Najaf adalah tempat makam Ali, dan Karbala adalah lokasi pertempuran Karbala dan makam Husain.
Di Suriah, keluarga Assad dan pendukung loyalisnya sebagian besar berasal dari kelompok Alawi, sekte minoritas Syiah. Loyalitas Alawi dan kerabat keluarga Assad diangkat ke posisi kunci militer, ekonomi, dan pemerintahan.
Pemberontakan 2011 berawal sebagai gerakan sosioekonomi dan lintas mazhab, dengan massa yang meneriakkan bahwa warga Suriah adalah satu. Seiring perang, konflik itu memperoleh dimensi sektarian, dengan Iran dan Rusia mendukung pemerintah Assad.
Arab Saudi, Qatar, dan Turki mendukung oposisi yang didominasi Sunni, menurut analisis Berkley Center dan CFR. Rezim Assad runtuh pada akhir 2024 menurut RSIS, dan naskah ini tidak membahas Suriah setelah tahun itu.
Di Lebanon, Hizbullah, gerakan Syiah Lebanon, dibentuk pada 1982 menurut Yale Global. Gerakan itu menjadi kekuatan politik dan militer utama komunitas Syiah Lebanon, serta sekutu dekat Iran dan Suriah di bawah Assad.
Di Bahrain, monarki Sunni keluarga Al Khalifa memerintah negara yang menurut Pew sekitar 70 persen Muslimnya Syiah. Pada 2011, dalam gelombang Musim Semi Arab, mayoritas Syiah Bahrain menuntut hak yang sama dari monarki Sunni, yang menindak keras para pengunjuk rasa.
Pemerintah Bahrain menuduh Iran mendukung pemberontakan itu. Tuduhan semacam itu adalah klaim politik yang harus ditulis sebagai klaim, bukan fakta, karena dukungan dan pengendalian adalah dua hal yang berbeda.
Yaman Utara diperintah imamah Zaidiyah dari 897 sampai revolusi republikan 1962. Gerakan Houthi, atau Ansar Allah, muncul dari komunitas Zaidiyah dan memperoleh dukungan dari banyak suku Zaidiyah utara sejak 1990-an.
Kesalahan terbesar yang harus dihindari adalah menulis Houthi sebagai Syiah Iran atau cabang Teheran. Kedekatan politik antara Houthi dan Iran tidak menghapus perbedaan mazhab: Zaidiyah berbeda secara teologis dari Ja'fari Iran.
Arab Saudi memimpin koalisi militer yang mendukung pemerintah Yaman melawan Houthi sejak 2015. Iran dituduh mendukung Houthi, dan kata dituduh wajib dipakai, karena tingkat dan bentuk dukungan itu adalah klaim yang diperselisihkan.
Tidak semua Zaidiyah mendukung Houthi, menurut laporan IRIN. Pemerintah Yaman pernah membujuk klan-klan Zaidiyah saingan untuk memimpin pertempuran melawan Houthi di pegunungan Yaman utara.
Di negara-negara Teluk, isu Syiah sering menyatu dengan isu kewarganegaraan, distribusi kekayaan minyak, dan keamanan negara. Karena itu, setiap protes Syiah di Teluk tidak boleh ditulis sebagai gerakan pro-Iran tanpa bukti.
Faktor lain yang harus disebut dalam penjelasan yang jujur adalah perebutan kekuasaan negara, distribusi sumber daya, warisan kolonial dan batas-batas buatan, intervensi kekuatan besar, kesukuan dan etnis, serta ekonomi minyak.
Penutup: Membaca Berita dengan Prisma yang Tepat
Perpecahan Sunni dan Syiah bermula dari perselisihan politik tentang suksesi, mengeras menjadi dua tradisi dengan teori kepemimpinan dan mazhab fikih yang berbeda, lalu menjadi identitas negara. Namun, perpecahan itu tidak menjelaskan semuanya.
Bagi pembaca, pertanyaan yang berguna saat membaca berita Timur Tengah bukan hanya Sunni atau Syiah, melainkan siapa pelakunya, di mana, kapan, dan kepentingan apa yang dipertaruhkan.
Read More
Related Posts
Timur TengahTimur Tengah • 29 Oktober 2026
Ras Tanura Masih Tanpa Konfirmasi, Pencegatan Meluas ke Taif lalu Kembali ke Timur
Timur TengahTimur Tengah • 29 Oktober 2026
PM Irak Kunjungi Damaskus Pertama Kali Sejak Jatuhnya Assad, Pipa Baniyas Jadi Agenda Utama
Komentar
Memuat komentar…





















