Brent Tembus 116,72 Dolar, Tertinggi Sejak April, di Tengah Serangan ke Infrastruktur Saudi
Redaksi • 25 Oktober 2026 • 0 Views

Harga minyak acuan Brent ditutup 116,72 dolar Amerika Serikat per barel pada Jumat, 23 Oktober 2026, naik 3,55 dolar atau 3,14 persen dari hari sebelumnya, menurut Reuters. Penutupan itu menjadi penutupan Brent tertinggi sejak 29 April 2026.
Minyak acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), ditutup 103,27 dolar per barel pada hari yang sama, naik 3,80 dolar atau 3,8 persen, menurut sumber yang sama.
Kenaikan Jumat itu melanjutkan reli sehari sebelumnya. Pada Kamis, 22 Oktober 2026, Brent ditutup 113,17 dolar per barel, naik 4,0 persen, sementara WTI ditutup 99,47 dolar per barel, menurut BizFocus.
Dalam sepekan, Brent naik sekitar 6 persen dan WTI naik sekitar 2 persen, menurut Reuters dan para pelansir wire.
Data Dow Jones yang dikutip Morningstar menyebut penutupan Jumat itu sebagai penutupan tertinggi ketiga Brent sepanjang tahun ini, dan masih 1,38 persen di bawah tertinggi 52 pekan, yaitu 118,35 dolar per barel pada 31 Maret 2026.
Data yang sama menyebut Brent sudah naik 91,82 persen sepanjang tahun berjalan, dari titik terendah 2026 di 59,96 dolar per barel pada 7 Januari 2026.
Satu analisis pekan depan, FinanceFeeds, menyebut Brent sempat menembus di atas 117 dolar secara intraday pada Jumat itu, tanpa menyebut angka persisnya.
Pemicu yang Dilaporkan
Para pelaku pasar mengaitkan lonjakan itu dengan kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Reuters melaporkan serangan Houthi ke Arab Saudi, termasuk ke infrastruktur energi, sebagai pemicu utama, dan menyebut perusahaan minyak Saudi, Aramco, memerintahkan evakuasi markasnya di Dhahran pada Kamis sebelumnya, menurut laporan Reuters yang dikutip para pelansir.
Analis LPL Financial, Adam Turnquist, yang dikutip Reuters, menilai kekhawatiran gangguan pasokanlah yang mendorong kenaikan, setelah serangkaian serangan Houthi di Arab Saudi termasuk ke infrastruktur energi.
Pemicu lain yang dilaporkan adalah tumpahan minyak dari sebuah tanker yang terdeteksi lepas pantai Umm Al Quwain, Uni Emirat Arab, menurut Kementerian Perubahan Iklim dan Lingkungan UEA yang dikutip Reuters. Penyebab tumpahan itu belum disebutkan dan tankernya belum diidentifikasi.
Kekhawatiran pasar juga dipicu pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 21 Oktober 2026, yang dikutip UNB, bahwa Washington tidak sedang bernegosiasi dengan Teheran dan "sesuatu akan segera terjadi".
Media global yang dikutip UNB juga menyebut pejabat senior Amerika Serikat mengatakan Amerika Serikat dan Israel mempertimbangkan operasi gabungan terhadap aset Iran setelah pemilu sela Amerika Serikat. Laporan-laporan itu ditulis di sini sebagai laporan dan pernyataan pihak-pihaknya, bukan sebagai kepastian bahwa operasi tersebut akan terjadi.
Versi Resmi: Harga di Indonesia
Di sisi Indonesia, angka dan pernyataan resmi terakhir yang terverifikasi berasal dari sebelum lonjakan 23 Oktober, dan semuanya ditulis di sini dengan tanggalnya masing-masing.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price, ICP) rata-rata September 2026 sebesar 112,81 dolar per barel, naik 23,38 dolar dari 89,43 dolar pada Agustus 2026, lewat Keputusan Menteri ESDM Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 pada 12 Oktober 2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, yang dikutip dari pernyataan resmi ESDM, menerangkan kenaikan itu mencerminkan dinamika pasar minyak global yang dipengaruhi ketidakpastian geopolitik yang tinggi dan meningkatnya risiko gangguan pasokan.
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, pada 13 Oktober 2026, di sela Forum Kebijakan Prasasti Indonesia 2026 di Jakarta, menjamin pemerintah tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi meski ICP September melonjak ke 112,81 dolar.
Kutipan singkatnya yang dikutip media berbunyi "tidak akan ada kenaikan harga BBM". Menurutnya, pemerintah akan menghitung ulang angka-angka, tidak menambah subsidi, dan tidak memperlebar defisit akibat kenaikan minyak, serta kebijakan subsidi ke depan akan lebih difokuskan dan lebih tepat sasaran.
Pertamina Patra Niaga menetapkan harga BBM pada 1 Oktober 2026 tidak berubah dari periode September 2026, baik subsidi maupun nonsubsidi. Harga subsidi yang berlaku adalah Pertalite Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menerangkan bahwa untuk BBM subsidi, sesuai kebijakan pemerintah, harga ditetapkan sampai akhir 2026, sementara untuk nonsubsidi diberlakukan harga yang sama dengan periode sebelumnya.
Penanda penting untuk pembaca: sampai paket bahan ini disusun pada Minggu pagi, 25 Oktober 2026, tidak ditemukan pernyataan resmi baru dari pemerintah Indonesia yang merespons lonjakan harga pada 23 Oktober.
Pernyataan-pernyataan di atas bertanggal 12 Oktober, 13 Oktober, dan 1 Oktober 2026, dan tidak boleh dibaca sebagai respons atas lonjakan 23 Oktober.
Harga spot Brent 116,72 dolar pada 23 Oktober juga bukan harga rata-rata, sehingga tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan ambang harga rata-rata tertentu sudah terlampaui.
Yang Masih Ditunggu
Sejumlah hal masih belum diketahui dan baru akan terjawab pada hari-hari berikutnya. Pasar tutup pada akhir pekan, sehingga angka penutupan berikutnya baru tersedia pada Senin, 26 Oktober 2026. Ketetapan ICP Oktober 2026 juga belum ditetapkan saat paket bahan ini disusun.
Agenda lain yang disebut satu analisis pekan depan adalah rapat bank sentral Amerika Serikat, The Fed, pada 27 dan 28 Oktober 2026, serta pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November 2026.
Analisis FinanceFeeds untuk pekan depan menyebut dua level acuan, yaitu 120 dolar sebagai skenario naik dan 108 dolar sebagai skenario turun. Kedua angka itu adalah prediksi analis tersebut, bukan arah harga yang pasti, dan ditulis di sini semata-mata sebagai prediksi.
Untuk BBM subsidi, sesuai kebijakan pemerintah yang disampaikan Pertamina Patra Niaga, harga ditetapkan sampai akhir 2026. Pembaca sebaiknya menunggu pengumuman resmi berikutnya, bukan rumor harga, untuk mengetahui apakah ada perubahan apa pun.
Read More
Related Posts
SorotanSorotan • 25 Oktober 2026
Trump: Serangan ke Iran "Bisa Besok" atau Kesepakatan Besar, Garis Resmi: Tidak Sebelum Pemilu Sela
SorotanSorotan • 25 Oktober 2026
Koalisi Saudi: 3 Rudal dan 1 Drone Dicegat, Houthi Klaim Serang 8 Target Termasuk Fasilitas Aramco
Timur TengahTimur Tengah • 29 Oktober 2026
Ras Tanura Masih Tanpa Konfirmasi, Pencegatan Meluas ke Taif lalu Kembali ke Timur
Komentar
Memuat komentar…






















